Lepas Dari Cengkeraman Narkoba? BISA!

Kesaksian teman yang telah lepas dari ketagihan narkoba

Pada tanggal 20 Mei tahun ini, ada teman, sebut saja LAS (singkatan nama), yang mengirimkan pesan di web ini dan inbox FB, isinya ingin mengajak ngobrol tentang kisah dirinya yang telah berhasil lepas dari ketagihan narkoba. Saat itu saya menanyakan: “Bagaimana bisa ngobrol? Kan anda tinggal Bandung, sedangkan saya tinggal di Yogya.” Kemudian disepakati kami ngobrol menggunakan fasilitas dunia maya, menggunakan inbox FB.

Dari ceritanya, ia mulai mengenal narkoba sejak tahun 1978, ketika masih duduk di bangku SMA. Dan baru pada tahun 2004, ia bisa merasakan telah benar-benar lepas dari barang haram tersebut. Kalau dihitung secara matematis dia telah menjalani hidup dalam belenggu narkoba sekitar 26 tahun, atau kira-kira separo dari usianya.

Yang manarik dalam cerita ini bukan lamanya dia hidup berkubang di narkoba, tetapi tentang proses yang dia alami hingga bisa lepas dari “kenikmatan semu” itu. Menurutnya tidak ada orang yang bisa menghentikan dirinya meninggalkan dunia narkoba, melainkan karena ada dorongan yang kuat dari dalam dirinya sendiri.

Demikian komunikasi di antara kami

LAS: Inti ceritanya, mundur dari komunitas (pemain kalau istilah para narkobais atau drugis) itu kan bisa dari bos, atau teman, atau dari lain-lain. Tetapi ternyata itu semua hanya semu. Keinginan ku untuk mundur sudah lama. tetapi selalu kalah dengan kata “menghormati.” Kata ini telah membikin aku gagal.

Sampai pada suatu saat aku punya keberanian untuk mengatakan mundur dengan segala resiko. Resiko yang akan saya terima: 1. Resiko dilupakan beliau-beliau; 2. Resiko ditinggalkan teman-teman (terutama teman-teman kantor); 3. Resiko hidup pada lingkungan/lingkup baru..

Keputusanku sudah bulat, itulah yang “memaksa” aku membuat kata-kataku sendiri yang bisa untuk meloloskan keputusanku. Kata-kata yang aku tanamkan untuk terlepas dari narkoba:
1. Kalau ada kata “menghormat,” maka “harus bisa timbal-balik.” Maksudnya, aku menghormati dia yg masih di jalannya (sambil berdo’a) semoga dapat jalan terbaik, dan tentunya mereka juga harus menghormati pilihanku.
2. Seandainya komunitas tersebut memperdayaku, aku hanya berujar (mengatakan dalam hati): “Semoga ini dapat menghapus dosa-dosaku.”
3. Seandainya jalan rejeki terganggu (karena jalur terputus), aku mendorong diriku dan hatiku: “Selama ini justru aku sering menghamburkan rejeki, malah kelewatan lagi.”
4. Paling akhir, adalah kalaupun teman-teman itu meninggalkanku, aku mengatakan dalam hati: “Mereka adalah teman yang tidak baik.”

Dan Alhamdulillah.. sedikit demi sedikit dapat kurasakan nikmatnya terlepas dari narkoba, sehingga yah rejekiku jadi bermanfaat, hidupku jadi segar, keluarga jadi sayang.

DK (Saya): Kalau boleh tahu, sejak kapan mulai menggunakan narkoba? Bagaimana awal mula memakainya? Jenis narkoba apa saja yang dikonsumsi? Apakah ada yang tergolong “kelas berat”? Apa saja manfaat yang dirasakan, hingga bisa membuat terus-menerus menggunakannya (selain “menghormati” pemain)? Apakah sekarang sama sekali sudah tidak menggunakannya? dan kapan terakhir kali menggunakannya?

LAS: SMA aku sudah kenal drug dan ganja, (tetapi temen-teman SMA tidak banyak yang tahu). Setelah di LPKJ (sekarang IKJ), meningkat kenal Pil Koplo. Itulah yg membuat hidupku juga Koplo.. Pindah kuliah ke Unisula (Semarang). Kuliah sambil bentuk bareng-bareng sama temen Group Qasidah.. “LQ” awal namanya.. terus dipegang oleh HH (namanya agak lupa, cuma yang aku tahu pada waktu itu beliau memegang jabatan penting di Kota Semarang), yang kemudian group tersebut berganti nama jadi “Arb,” tetapi saya mundur. Karena Group Qasidah pemainnya kok Drunker Master and Ganjais (Tidak cocok meskipun aku seorang Drunker dan Ganjais juga).

Kemudian kuputuskan untuk menikah meskipun masih muda dan belum selesai kuliah. Alasan saya menikah (saat minta ijin ke orang tua), menikah muda dengan maksud: 1. Agama belum dapat mengerem saya; 2. Sosial belum dapat mengerem saya. Makanya harus menikah, siapa tahu menikah dapat mengerem semuanya, “bukankah laki-laki yang menikah harus bertanggung jawab terhadap keluarga ? dan jadi panutan keluarga ?”

Karena kuliah cuma sampai tingkat II, maka aku menikah dan balik ke kampung. Untuk menghidupi keluarga, aku menjadi sopir angkutan (plat hitam), dan Drunker dan Pil Koplo, dlsb berhenti total.

Baru menjadi sopir selama 6 bulan, saya diterima kerja di Instansi BUMN Purwokerto, di Bag. Personalia. Saya merasa berbunga-bunga, karena saya menganggap pegawai itu priyayi yang tidak mungkin hal-hal yang pernah aku lakukan itu ada.

Oh.. ya.. untuk diketahui aku beruntung dapat memilih jenis-jenis narkoba yang menurut aku tidak mencelakakanku, dan aku selalu menolak jenis morphin dan putaw, walau sebenarnya sering berkali-kali tawaran itu ada. Barangnya kuterima sampai di rumah kusimpan saja. Kalau morphin aku kenal saat masih di SMA dan Putaw aku kenal setelah bekerja. Tetapi syukur keduanya tidak pernak aku konsumsi.

Yang aku konsumsi adalah: Drug, Ganja, Pil Koplo, Sabu-sabu, Ekstasi dan Main Perempuan..

Efek yang ada pada diriku itu berbeda satu dengan yang lain.

“Saya orang yang punya sifat seneng berteman” dan celakanya lingkungan saya adalah teman-teman yang seperti itu. Aku juga suka menyenangkan orang, baik dengan materi ataupun dengan yang lain-lain. Celakanya lupa keluarga. Jadi istilahnya “pergaulan yang menyesatkan.”

Dipindahkan ke Jawa Barat, malah tambah menjadi-jadi, karena apa? Karena lingkunganku baik di tempat kerja maupun di kampungku semua itu ada, dan celakanya aku ada di dalamnya. Sikap atau budaya orang jawa adalah bersikap “intro” (menutup diri), beda dengan saudaraku orang Jawa Barat, “extro” (terang-terangan). Prinsipnya “Kenapa harus malu dengan orang, toh disembunyikan juga Allah maha tahu.”

Alhamdulillah aku diberi fisik yg kuat, maka walaupun mengkonsumsi selalu terbanyak (meskipun kalau diadu aku tidak mau) aku masih bisa bertahan.

Lebih celaka lagi, anakku membalas perbuatanku, dan malah ingin melebihi. Anakku kenal Penjara semenjak duduk di SMA..karena Narkoba dan Geng Motor Bandung. Untung kuliahnya bisa selesai. Mungkin inilah yang menyebabkan aku berhenti. Biarlah komunitasku meninggalkanku, asal anakku bisa jadi sehat.

Aku berhenti tahun 2004, apapun yg terjadi mesjidlah tumpuanku. Dan Alhamdulillah sampai sekarang saya dapat benar-benar menolak ataupun tidak takut kehilangan teman karena saya punya teman yang lebih hebat dari mereka yaitu: Allah Swt.

Godaan saya hanya dengan perempuan. Kalau melihat perempuan cantik tidak bisa berpaling, meskipun hanya terbatas memandang, kalau aku dinas ke daerah dikasih perempuan tak pernah kunikmati lagi.

Aku heran kalau ada LSM yang menghendaki legalnya GANJA, itu mah tidak waras.

DK: Kalau boleh aku review, kata-kata sugesti yang dipakai:
1. Untuk menghormati teman sesama pemakai (komunitas pemakai): “Aku harus tetap menghormati dia yg masih di jalannya,” sambil mendo’a kan mereka: “Semoga mereka segera mendapatkan jalan terbaik,” dan berharap: “Agar mereka mau menghormati pilihanku.”
2. Untuk komunitas pemakai yang memperdaya: “Semoga kejadian ini dapat menghapus dosa-dosaku.”
3. Seandainya jalan rejeki dari mereka terputus, karena jalur terputus: “Selama ini aku malah sering menghamburkan rejeki dengan mereka, bahkan malah kelewatan lagi.”
4. Kalau komunitas pemakai meninggalkan: “Tidak masalah, toh mereka adalah teman yang tidak baik.”

Begitu ya ceritanya,… bila ada yang kurang mohon pemahaman ini dikoreksi

LAS: Yups.
1. Ya.. terserah dalam melangkah,… karena aku tahu waktu aku masih aktif kalau di larang-larang malah mencibir.
2. Ya.. misal anakku diganggu mereka, aku sendiri dicari-cari lubang kesalahan.. Keyakinan itu memperkuatku.
3. Tepatnya.. dia pake hasil macam-macem untuk happy, aku hasil dari keringat alias halal digunakan untuk yang nggak halal.
4. Kalau mereka meninggalkanku itu berarti berteman mereka sebatas kebutuhan..
OK.. Mantap

Ada tambahan sifat ku yang kurang baik, kalau aku sudah punya simpanan uang, aku kurang semangat mencari uang. Harus menunggu kosong, baru gerak.

DK: OK…. Kan sejak tahun 2004 sudah berhenti,… Apakah sang isteri dan anak-anak mengetahui?

LAS: Waktu masih aktif malah sempat istriku aku pameri. Pernah pulang dari Blora sempat aku ajak mampir ke Bandar.. (parah). Tidak pernah ada yang saya tutupi dengannya, kecuali masalah perempuan

DK: Setelah berhenti, apa saja perbedaan yang dirasakan: Pertama, secara jasmani/fisik perubahan apa saja yang dirasakan?

LAS: Perbedaan secara jasmani/fisik: Badanku lebih segar, mataku selalu bening. Dahulu selalu nampak kurus kering bermata merah. Olah raga rajin dan makan apa aja jadi enak.

DK: Kedua, secara finansial perubahan apa saja yang dirasakan?

LAS: Secara finansial: Ya minimal rumah kecilku dah bisa jadi tingkat 3 (tiga) dan aku punya sepetak tanah. Anak-anakku sekolah lancer. Yang besar sudah bekerja dan aku lebih pandai mempergunakan uang. Uang lah yang kukuasai.

DK: Ketiga, secara rohani apakah ada perubahan?

LAS: Tentu. Aku tidak malas lagi untuk melaksanakan 5 waktu, dan keyakinanku tentang semua dari Allah semakin tebal. Bekerja jadi enteng dan yakin. Artinya gagal dan sukses ujian dari Allah.

DK: Keempat, secara intelektual apakah ada perubahan yang dirasakan?

LAS: Tentu. Aku lebih dapat mendidik anak-anak dari pengalaman kegagalan, dan aku bisa bersaing dengan teman-teman yang sarjana. Alhamdulillah.. posisiku di kantor sudah di struktural meskipun ijasah SMA, dapat duduk sebagai Kepala Sub Seksi.

DK: Kelima, secara emosional (rasa percaya diri, cemas, dll) apakah ada perubahan yang dirasakan?

LAS: Secara emosional: Justru itulah kelebihanku. Karena aku merasa clear, aku lebih pede dalam bergerak. Dulu mau keluar rumah saja selalu waspada, takut kepergok. Sekarang I’m Free… (kecuali sifat malu bawaan dari orok).

DK: Keenam: secara sosial, apakah mereka memutuskan hubungan? dan bagaimana hubungannya dengan keluarga? Selain itu, kalau ada faktor-faktor positip setelah berhenti narkoba, silakan ditambahkan.

LAS: Secara sosial: Alhamdulillah, ternyata temen sering terjebak oleh ucapannya sendiri, Contoh :
1. Wah pak LAS ini dulu aku banyak belajar, aku jadi ngerti narkoba karena pak LAS, eh sekarang ditinggal. Tentang temanku ES, SGT bilang: Gara-gara elu LAS.. dia sekarang jadi begitu. Dan semua itu aku jawab: OK, kalau memang aku jadi panutan.. yuk kita ke Mesjid. Yuk kita tinggalkan itu, dan mereka tak dapat menjawab.
2. Kadang pagi-pagi mereka dengan bangga bercerita, bahwa semalam habis pesta. Aku cukup bertanya “Seneng Dong ? Habis berapa Gelas, Berapa tarikan ?” malah aku tambahi dengan pujian “Wah doitnya buanyak ni…!” Dan ujung-ujungnya dia bilang “Tapi pusingnya masih sampai sekarang, doitku habis ludes… pusing ah..!” “Oh.. jadi cuma senang semalam?” kataku. “Ya.. nih. mau hubungan sama istri aja barangku lemes..!” Kubalas: “Ya udah kalau emang itu yang kamu cari kenapa harus mengeluh ?”
3. Aku sering bilang pada temen-temen ku: “OK.. kalau kalian masih kuat membawanya,.. silakan!” Sambil mensugesti kepada mereka: “Maklumlah aku sudah lama menggunakan itu.. Jadi dengkulku suka sakit, Sendi-sendi ini suka linu.. Ususku suka melilit perutku jadi Panas “

Dan sering kali yang aku denger adalah : “Aku kalau nggak begini susah si cari duit… !” Kalimat ini selalu keluar di komunitas. Dan aku bilang “SALAH…..! Orang semangat mencari uang karena ada target yang HARUS MENGGUNAKAN UANG.” “Beli Minuman pakai apa,… Beli Sabu pakai Apa,… Bejudi, main wanita pake apa,… kenapa itu diusahakan sampai dapat, sedangkan diminta keluarganya suka sulit?” Yah… kecintaan pada kesenangan yang salah. Coba kalau kesenangan itu dirubah menjadi seneng kalau keluarganya seneng,… Pasti Beda Hasilnya.

Kalimat Bos saya yang sekarang Jualan Bebek di Lingkar Jogyakarta Ir. Djoko Suhartono: “Pak LAS ini mau seneng nggak? Kalau mau seneng ya senengkan dulu keluarga..!” NAH.

Faktor yang positif lainnya pada saat ini :
– Aku tidak takut ketemu POLISI
– Berani menasehati orang lain dengan kapasitasku sebagai orang tua di lingkunganku.
– Punya temen dari berbagai kalangan dan di mana-mana ada. sehingga bepergian sendiri pun tak pernah cemas kehabisan bensin..he.he.he

Banyak temen Komunitas ngertinya aku berhenti karena tak punya Uang… Tentu ini menjadikan kesenangan tersendiri bagiku. “Ini pak .. siapa tahu bapak nanti butuh tukang pijit” begitu bahasa yang halusnya..!” Kuterima amplopnya… pijitnya ? cukup pijat orang kampung yang handal. he.he.he

DK: Adakah kata-kata tambahan, semacam closing statement, untuk teman-teman agar tidak terlibat narkoba atau bisa keluar dari jerat narkoba?

LAS: ”Jauh dari Narkoba adalah keindahan yang nyata, dekat dengan Narkoba adalah keindahan yang semu dan dekat dengan Celaka.” “Pemberani itu adalah yang berani menolak.”

Begitulah kesaksian teman yang telah membuktikan bahwa dirinya bisa terlepas dari kubangan narkoba. Bagi siapapun yang ingin terlepas dari narkoba, LAS menambahkan rahasianya, yaitu: perlu banyak mengucapkan kata: BISA!

Salam,
Dwiatmo Kartiko

Informasi tentang pengembangan SDM, dll., di sini.

—o0o—

About karuniasemesta

Kelompok Karunia Semesta (KKS) merupakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan motto: "Saling berbagi membangun hidup bermartabat." Kelompok ini memberi pelayanan: konsultasi, mentoring, pendampingan & coaching/pelatihan. Kegiatan rutin yang dikerjakan antara lain memberi pelayanan sosial, konsultasi, pendampingan dan mentoring kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan untuk menyelesaikan permasalah sosial, ekonomi. pendidikan, kesehatan, dll. Di samping itu, KKS juga memberi coaching/pelatihan pengembangan sumber daya manusia, a.l. Pelatihan Shifting Character for Success, Menjadi Pemimpin yang Tangguh, Self Empower, Pelatihan Teamwork Berkinerja Prima, dan Pelatihan Soft-skills: inisiatif, inovasi, decision making, problem solving, manajemen waktu, pendelegasian, resolusi konflik, manajemen teamwork, PDCA/ PDSA, strategic planning, dll. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kantor Pusat: Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663 e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id. Kontak: Dwiatmo Kartiko Dwiatmo Kartiko lahir di Blora pada 30 Mei 1963. Masa kecil hingga menyelesaikan SMA dijalani di kota kecil di Jawa Tengah tersebut. Pada tahun 1986, menyelesaikan pendidikan S-1 Geografi di Univ. Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah lulus, sempat mengajar di Univ. Kristen Satya Wacana, Salatiga, selama 3 (tiga) semester, hingga pertengahan tahun 1988. Setelah itu, kegiatan sehari-harinya dihabiskan dengan menggeluti dunia LSM yang berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan lingkungan, baik di LSM lokal maupun LSM Internasional, mulai dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta, WALHI Yogyakarta, PELKESI dan diteruskan masuk menjadi staf PLAN Internasional Indonesia. Mulai tahun 2000, dunia usaha menjadi impian hidupnya, sambil masih terus terlibat di dalam dunia pemberdayaan SDM. Itulah sebabnya, sejak tahun 2006 pengembangan SDM menjadi fokus aktivitas sehari-harinya, dengan menjadi fasilitator pemberdayaan SDM secara individual dan kelompok, baik itu organisasi atau perusahaan. Saat ini bersama isteri dengan dua anak, tinggal di Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Bisa dikontak via Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667; 08886829663; e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
This entry was posted in Paper and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s