Tiga Peranan Pemimpin Dalam Paradigma Baru

Oleh: Alike Mulyadi Kertawijaya

Pemimpin masa depan, dari millenium mendatang, adalah seseorang yang menciptakan suatu budaya atau sistem nilai yang berpusat pada prinsip-prinsip. Penciptaan, budaya demikian itu dalam bisnis, pemerintah, sekolah, rumah sakit, organisasi nirlaba, keluarga, atau organisasi lainnya akan merupakan suatu tantangan luar biasa dan menakjubkan dalam era baru ini dan hanya dapat dicapai oleh pemimpin-pemimpin, apakah yang baru muncul atau berpengalaman, yang memiliki visi, keberanian, sikap rendah hati dalam belajar, dan tumbuh secara berkesinambungan. Orang-orang dan organisasi yang memiliki gairah untuk belajar – belajar dengan mendengarkan, mengamati kecenderungan yang muncul, meraba dan mengantisipasi kebutuhan dalam pasar, mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan masa lalu, serta menyerap pelajaran yang diajarkan hati nurani dan prinsip-prinsip – akan memiliki pengaruh yang kuat. Pemimpin yang senantiasa belajar tidak akan menolak perubahan. Mereka justru merangkulnya.

A White-Water World

Dunia telah mengalami perubahan mendasar. Perubahan ini senantiasa terjadi di sekitar kita dan selamanya. Inilah a white-water world – dunia yang selalu berubah. Revolusi konsumen telah berlangsung luar biasa. Orang lebih banyak diberi penjelasan dan menjadi sadar. Demikian banyak kekuatan dinamis, bersaing, dan beroperasi. Standar mutu telah muncul, khususnya dalam pasaran global, sampai di titik mana tiada jalan keluarnya. Bisa saja bertahan hidup dalam pasar domestik tanpa mematuhi standar tersebut, bahkan dalam suatu pasaran regional, tetapi yang pasti tidak dalam pasaran global.

Dalam semua sektor – bisnis, pemerintahan, kesehatan, sosial atau nirlaba – pasar menuntut bahwa organisasi-organisasi tersebut harus bisa mentransformasikan diri, Mereka harus sanggup menghasilkan jasa dan barang serta menyajikannya dengan cepat, bersahabat, fleksibel, serta konsisten untuk mampu memenuhi kebutuhan pelanggan internal dan eksternal sekaligus. Hal ini memerlukan tenaga kerja yang tidak hanya diperbolehkan memberikan kreativitas dan bakat mereka, tetapi juga dimungkinkan, didorong, dan diberi balas jasa untuk melakukan hal demikian. Walaupun puluhan ribu organisasi sudah sangat terlibat dalam prakarsa mutu yang dirancang untuk menghasilkan kebutuhan tersebut, namun transformasi ke arah itu tidak tercapai. Alasan fundamental mengapa prakarsa mutu tidak bisa terwujud adalah karena langkanya budaya percaya – dalam hubungan antar manusia. Sama seperti halnya anda tidak bisa membohongi mutu yang berkelas dunia, demikian pula anda tidak bisa membohongi kepercayaan yang tinggi. Kesemuanya harus berasal dari kelayakan untuk bisa dipercaya (trustworthiness).

Saya sendiri lebih percaya dalam apa yang dikerjakan oleh ekonomi global untuk mendorong mutu daripada faktor lainnya. Ekonomi global mengajar kepada kita bahwa prinsip-prinsip seperti pemberdayaan (empowerment), kepercayaan, dan kelayakan untuk dapat dipercaya yang pada akhirnya mengendalikan hasil efektif yang kita cari. Pemimpin paling efektif adalah model yang menurut saya adalah kepemimpinan yang berpusat pada prinsip. Mereka semakin menyadari bahwa kita tunduk pada hukum alam atau prinsip-prinsip yang mengatur, yang beroperasi karena kesadaran kita akan adanya hukum itu atau prinsip patuh padanya. Efektifitas kita ditentukan oleh penyelarasan prinsip-prinsip yang tidak dapat dilanggar – hukum alam dalam dimensi nyata manusia, tidak berubah, seperti hukum gaya berat dalam dimensi fisika. Prinsip-prinsip ini sudah terlebur dalam setiap masyarakat beradab dan merupakan akar setiap organisasi yang dapat bertahan hidup.

Untuk satu tingkatan di mana kita mengakui dan hidup dalam harmoni dengan prinsip-prinsip dasar seperti ketulusan, pelayanan, persamaan, keadilan, integritas, kejujuran, dan kepercayaan, kita bergerak maju ke arah bertahan hidup dan stabilitas di satu pihak atau disintegrasi atau kehancuran di pihak lain. Prinsip-prinsip itu adalah self-evidence (rasa percaya diri), self-validating natural laws (berdasarkan hukum alam yang mengabsahkan diri). Pada kenyataannya, cara terbaik untuk menyadari bahwa prinsip tersebut self-evidence, adalah dengan mencoba membayangkan dunia atau, untuk kepentingan itu, apapun yang efektif, masyarakat, organisasi, atau keluarga yang dapat bertahan hidup atas dasar prinsip berlawanan dengan prinsip dasar tersebut.

Prinsip-prinsip yang tepat seperti kompas: senantiasa menunjukkan jalannya. Kompas tidak berubah atau bergeser, dan jika kita tahu bagaimana membacanya, kita tidak akan kesasar, bingung, atau terbuai oleh suara-suara dan nilai-nilai yang saling bertentangan. Kompas memberi arah ke Utara yang benar pada kehidupan kita dalam mengarungi arus lingkungan kita. Jelas bahwa suatu inti yang berlandaskan prinsip yang tak berubah merupakan kunci untuk memiliki kepercayaan, rasa aman, kekuatan, panduan, dan kebijakan untuk mengubah cara kita menanggapi kebutuhan dan peluang yang berubah di sekitar kita.

Jadai, peranan pertama seorang pemimpin adalah menjadi model kepemimpinan yang berpusat pada prinsip (principle centered leadership). Jika seseorang atau organisasi berprinsip, seseorang atau organisasi tersebut menjadi principle-centered, maka ia akan menjadi model bagi orang atau organisasi lainnya. Model, karakter, kompetensi, dan kegiatan demikian, menghasilkan sikap percaya di antara orang-orang, yang pada gilirannya akan berupaya mengidentifikasi diri sesuai model dan menjadi terpengaruh karena itu. Model adalah suatu kombinasi karakter (siapa anda sebagai pribadi) dan kompetensi (apa yang dapat anda kerjakan). Kedua kualitas ini mewakili potensi anda. Tetapi jika anda mewujudkannya secara nyata – dan bisa menyatukan tindakan dengan karakter, anda bisa menjadi model.

Tiga Peranan Seorang Pemimpin

Jika demikian, apa yang dimaksud dengan principle-centered leader models – model pemimpin yang berlandaskan prinsip – saya menganggap bahwa anda dapat membagi kepemimpinan dalam tiga fungsi atau kegiatan dasar : pathfinding (pencarian alur), aligning (penyelarasan) dan empowerment (pemberdayaan).

Pathfinding (Pencarian Alur)

Esensi dan kekuatan dari pathfinding (pencarian alur) diperoleh dalam visi dan misi yang pasti. Pathfinding akan memiliki arti yang lebih mendalam di masa depan. Pencarian ini membuat budaya dibekali dan terangsang mengenai suatu tujuan yang lebih bernilai. Tetapi, berkaitan dengan apa? Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat. Untuk itulah, pathfinding mengikat sistem nilai dan visi anda dengan kebutuhan pelanggan melalui suatu perencanaan strategis. Saya menyebut hal ini sebagai the strategic pathway (jalur strategis).

Aligning (Penyelarasan)

Kegiatan kedua dari seorang pemimpin adalah aligning (penyelarasan) yang terdiri atas upaya memastikan bahwa struktur, sistem,dan proses operasional organisasi anda memberi dukungan pada tercapainya misi dan visi dalam memenuhi kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat. Mereka tidak merintangi, tidak menyaingi, dan tidak menguasai. Tujuannya hanya memberi dukungan. Leverage (pengungkit) terbesar dari prinsip penyelarasan muncul jika bawahan anda merasa selaras dengan misi, visi, dan strategi anda. Bila mereka menghayati pemahaman akan kebutuhan, berbagi keterikatan yang kuat untuk mencapai visi, terpanggil utnuk menciptakan dan secara kontinu memperbaiki struktur dan sistem yang memenuhi kebutuhan, ini berarti anda memiliki penyelarasan. Tanpa kondisi manusiawi ini, anda tidak dapat memperoleh mutu yang berkelas dunia dan apa yang anda capai hanyalah program-program rapuh. Pada akhirnya, kita harus memahami bahwa program dan sistem memang sangat penting, akan tetapi tetap oranglah pemrogramnya.

Empowerment (Pemberdayaan)

Kegiatan ketiga seorang pemimpin adalah pemberdayaan. Apa yang dimaksud dengan pemberdayaan? Orang memiliki bakat, kecerdikan, kecerdasan, dan kreativitas luar biasa, tetapi kebanyakan sifat itu masih belum terungkap. Jika anda secara benar bekerja sama erat menuju visi dan misi bersama, anda mulai berbagi misi dengan orang-orang itu. Tujuan dan misi perorangan dipersatukan dengan misi organisasi. Bila tujuan-tujuan itu saling mengisi, maka terciptalah sinergi yang besar. Suatu semangat digerakkan dalam diri orang-orang yang mengungkapkan bakat, kecerdikan, dan kreativitas laten untuk mampu mengerjakan apa pun dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang disepakati untuk mencapai nilai, visi dan misi bersama dalam melayani kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat. Ini yang disebut pemberdayaan.

Tetapi anda harus mempelajari apa yang terjadi. Bagaimana hasilnya? Apakah kita benar-benar memenuhi kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat? Data dan informasi yang mengindikasikan apakah kebutuhan itu benar-benar dipenuhi harus diumpanbalikkan kepada orang-orang dan tim dalam budaya yang diberdayakan sehingga mereka dapat menggunakannya untuk perbaikan dan peningkatan secara kontinu, mengerjakan apa yang diperlukan untuk memenuhi misi dan melayani kebutuhan.

Paradigma Baru Kepemimpinan

Peranan model kepemimpinan yang berlandaskan prinsip yaitu – pathfinding, aligning, empowering – merupakan suatu paradigma yang berbeda dari pola pikir manajemen tradisional. Antara manajemen dan kepemimpinan terdapat perbedaan yang berarti. Keduanya merupakan fungsi vital, dan karena itu, adalah penting untuk memahami seberapa jauh mereka berbeda sehingga kita tidak sampai mengartikan yang satu untuk yang lainnya dan sebaliknya.

Kepemimpinan berfokus pada mengerjakan hal yang benar, sedangkan manajemen memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat. Kepemimpinan memastikan bahwa tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan bahwa kita mendaki tangga seefisien mungkin. Kebanyakan manajer dan eksekutif bekerja denga paradigma atau pola pikir yang ada, sedangkan para pemimpin berani mengangkat paradigma ke permukaan, mengidentifikasi asumsi dan motivasi yang melandasi, dan memberi tantangan dengan pertanyaan “apakah ini masih bisa dikerjakan”? Misalnya :

– Dalam pelayanan kesehatan, para pemimpin baru dapat memberi tantangan dengan asumsi bahwa pengobatan harus berfokus pada diagnosis dan terapi penyakit. Beberapa sekolah kedokteran dewas ini tidak mengajarkan nutrisi, sekalipun sepertiga dari semua penyakit kanker berkaitan erat dengan nutrisi dan dua pertiga dari semua penyakit erat hubungannya dengan gaya hidup. Mereka menganggap bahwa mereka menangani seluruh paket yaitu kesehatan dan kesejahteraan manusia, akan tetapi tetap mempunyai suatu paradigma pengobatan. Syukurlah jika para pemimpin baru menciptakan alternatif-alternatif pengobatan alternatif.

– Dalam bidang hukum. Para pemimpin baru dapat memberi tantangan dengan asumsi bahwa hukum itu paling tepat dipraktekkan dalam ruangan pengadilan dengan mengikuti persidangan yang bermuara pada “ menang-kalah”. Mereka dapat bergerak ke arah pemakaian sinergi dan pola pikir menang-menang untuk menghindari dan memecahkan perselisihan (dispute). Pemecahan alternatif atas perselisihan umumnya menghasilkan kompromi. Para pemimpin baru akan mencari pilihan “menang-menang atau tiada pemecahan” yang mengarah pada sinergi. Sinergi adalah lebih dari kerja sama, karena menciptakan pemecahan yang lebih baik. Sinergi memerlukan kemauan mendengar secara empati dan keberanian untuk menyatakan pendirian dan pandangan dengan cara menghargai pandangan orang lain. Dari interaksi yang tulus munculnya wawasan yang sinergis.

– Dalam bisnis, para pemimpin baru dapat memberi tantangan dengan berasumsi bahwa ‘kepuasan pelanggan secara total’ merupakan etika pelayanan terakhir. Mereka bergerak ke arah pemuasan pemegang saham lain yang terlibat sepenuhnya, sambil menunjukkan sikap peduli kepada setiap orang yang terlibat dalam sukses operasi dan pembuatan keputusan yang memberi manfaat terhadap pihak-pihak yang terlibat. Untuk mampu menjabarlan pola pikir baru ini, para pemimpin harus mengembangkan suatu pola keterampilan bersinergi yang baru. Sinergi secara wajar muncul dari mutu hubungan – persahabatan, sikap mempercayai, dan cinta kasih yang menyatukan semua orang.

Jika anda dapat menggabungkan new skill-set of synergi (pola keterampilan baru bersinergi) dengan new mind-set of interdependence (pola pikir interdependensi baru), maka anda akan berhasil dalam mencapai keunggulan bersaing. Dengan memiliki pola pikir dan pola keterampilan tersebut, anda dapat menciptakan struktur, sistem, dan proses efektif yang diselaraskan dengan visi dan misi anda. Setiap organisasi dirancang dan diselaraskan secara sempurna untuk mencapai hasil yang diperolehnya. Jika anda menghendaki hasil lain, anda membutuhkan suatu pola pikir baru dan pola keterampilan baru untuk menciptakan pemecahan sinergistis. Hanya memperjelas kepentingan diri sendiri untuk selalu memikirkan semua pihak yang terlibat ketika membuat keputusan, karena kita sedemikian saling tergantung.

Siapa Pemimpin Masa Depan?

Dalam banyak kasus, pemimpin masa depan mungkin juga sama dengan pemimpin masa sekarang. Tidak ada perubahan dalam personalia, tetapi lebih pada perubahan internal: seseorang yang menjadi pemimpin masa depan karena suatu transformasi dari dalam keluar. Apa yang menggerakkan pemimpin untuk berubah, menjadi lebih banyak berprinsip?

Saya menganggap bahwa sumber utama perubahan pribadi adalah karena penderitaan. Penderitaan ini bisa berasal dari kekecewaan, kegagalan, kematian, hubungan yang putus dengan keluarga atau dengan teman, sikap percaya diri yang dilanggar, kelemahan pribadi, ketawaran hati, kebosanan, ketidakpuasan, kesehatan yang lemah, akibat keputusan yang buruk, kesepian, kesedangan, ketakutan, tekanan keuangan, ketidakamanan pekerjaan, atau ketidakseimbangan hidup. Jika anda tidak merasakan penderitaan, maka akan jarang ada motivasi atau kerendahan hati untuk berubah. Bahkan tidak ada kebutuhan akan perubahan. Tanpa penderitaan pribadi, orang cenderung melulu untuk memikirkan diri sendiri dan dunianya untuk muncul dari kepentingan atau liku-liku mengerjakan sesuatu, baik dalam pekerjaan atau di rumah. Kalau orang mengalami penderitaan, mereka cenderung lebih terbuka untuk menyerap suatu model kehidupan baru dimana unsur rendah hati dan pengorbanan pribadi mengarah pada perubahan dari alam keluar, yang berprinsip.

Kekuatan penggerak utama perubahan organisasi adalah ekonomi global. Standar mutu dewasa ini sudah sedemikian tingginya, kecuali jika anda memiliki tenaga kerja yang diberdayakan dan memiliki jiwa kemitraan tinggi terhadap semua pihak yang terlibat, anda tidak akan mampu bersaing, baik dalam sektor swasta, sektor publik, ataupun sektor sosial. Ketika anda menghadapipara pesaing yang lebih banyak mempertimbangkan faktor ekologi dan interdpendensi, ini berarti kekuatan dari kedaan tersebut akan memaksa anda untuk bersikap lebih rendah hati. Itulah yang menggerakkan perburuan mencapai mutu, belajar, proses rekayasa ulang, dan prakarsa lainnya. Tetapi sebagiamn besar prakarsa itu tidaklah mencukupi. Peralihan pola pikir tidak cukup matang. Kepentingan semua pemegang saham yang terlibat harus ditangani seperti ketika memimpin orkestra.

Kita ini dipaksa untuk rendah hati oleh keadaan atau bisa juga memilih secara sukarela untuk rendah hati karena adanya pengakuan bahwa prinsip-prinsip itulah yang pada akhirnya menguasi kita. Untuk menjadi rendah hati adalah baik apa pun alasannya. Akan tetapi akan lebih baik menjadi rendah hati karena dorongan hati nurani bukan karena keadaan.

Pemimpin Masa Depan – Suatu Keluarga Yang Utuh

Pemimpin masa depan memiliki rasa rendah hati menerima prinsip-prinsip dan juga memiliki keberanian untuk menyelaraskannya, dimana hal tersebut membutuhkan pengorbanan pribadi yang besar. Dari kerendahan hati, keberanian, dan pengorbanan muncullah individu yang memiliki integritas. Sesungguhnya, saya lebih suka membayangkan bahwa jenis pemimpin ini seperti memiliki suatu eluarga yang utuh, di dalam diri apakah mereka laki-laki atau wanita: kerendahan hati dan keberanian orang tua, dan integritas anak-anak.

Kerendahan Hati dan Keberanian Orang Tua

Kerendahan hati akan mengatakan bahwa “ Saya tidak mengendalikannya; prinsip-prinsiplah yang pada akhirnya mengatur dan mengendalikannya”. Kita perlu memahami bahwa kunci keberhasilan jangka panjang adalah belajar menyelaraskan prinsip-prinsip yang kuat arahnya. Untuk itu diperlukan kerendahan hati, jika pola pikir tradisional kita akan menyatakan” Sayalah yang mengendalikan. Masa depan atau nasib saya akan berada di tangan saya.” Pola pikir demikian itu menjurus pada kesombongan – kesombongan yang demikianlah yang biasanya muncul sebelum kejatuhan.

Para pemimpin masa depan akan memiliki keberanian untuk menyelaraskan prinsip-prinsip dan melawan asumsi-asumsi atau paradigma lama. Keberanian dan kegigihan yang luar biasa sangat dibutuhkan untuk menyatakan “Saya akan menyelaraskan sistem nilai pribadi saya, gaya hidup saya, arah saya, dan kebiasaan saya dengan prinsip-prinsip yang tidak kenal waktu.” Keberanian adalah kualitas dari setiap prinsip pada titik ujian tertinggi. Disinilah keberanian akan memainkan peranannya. Jika anda berhadapan dengan pendekatan lama secara langsung, anda akan mengalami ketakutan untuk melepaskan kebiasaan lama dan menggantinya dengan sesuatu yang baru.

Integritas Anak

Dari penggabungan kerendahan hati dengan keberanian lahirlah integritas anak. Kita semua ingin dikenang sebagai pria dan wanita yang memiliki integritas. Memiliki integritas berarti menyatukan diri kita dengan prinsip-prinsip tersebut. Pemimpin masa depan haruslah terdiri atas pria dan wanita yang memiliki integritas untuk kemudian menginternalisasi prinsip-prinsip tersebut. Mereka tumbuh dalam kebijakan dan memupuksuatu pola pikir yang tinggi – suatu kesadaran akan adanya keterbukaan peluang untuk segala hal. Jika anda memiliki integritas, anda tidak akan terjebak untuk selalu membandingkan dengan orang lain. Anda pun tidak butuh bermain politik, karena anda memiliki rasa aman yang berasal dari dalam diri anda. Ketika anda mengubah sumber rasa aman tersebut, segala sesuatunya akan mengalir darinya. Rasa aman, kekuatan, kebijakan, dan petunjuk, semakin bertambah karena anda senantiasa menarik kekuatan dan prinsip-prinsip itu dengan menggunakannya.

Catatan Akhir

Kita semakin menyadari akan melemahnya struktur sosial kita. Ganja, kriminal, buta huruf, kekerasan, pecahnya keluarga, semuanya terus berlangsung dan semakin menyengsarakan. Para pemimpin masa kini mulai mengakui bahwa masalah-masalah sosial yang demikian itu membawa resiko berat pada setiap aspek kehidupan sosial kita. Para pemimpin masa depan menyadari bahwa pemecahan masalah ini di luar kemampuan sektor-sektor yang secara tradisional diharapkan mampu menanganinya – yaitu pemerintah dan sektor sosial. Saya tidak bermaksud mengkritik sektor-sektor tersebut. Secara nyata, menurut anggapan saya bahwa mereka seharusnya menjadi orang pertama yang mengakui bahwa tanpa suatu jaringan kerja lebih luas yang membantu, mereka pasti akan mengalami kegagalan.

Masalahnya secara keseluruhan, adalah telah melemahnya tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh lingkungan masyarakat, rukun tetangga, gereja, keluarga, dan individu terhadap usaha sukarela. Orang semakin mudah mencari alasan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab kepada masyarakat. Saya menganggap bahwa hal ini merupakan tanggung jawab keluarga dan masing-masing anggota harus memiliki rasa kepemimpinan terhadap masyarakat itu – setiap laki-laki, setiap wanita dan setiap anak. Di dalam keluarga seharusnya ada rasa kepemimpinan tentang bagaimana memberi pelayanan terutama kaum muda yang masih berusia belasan dan awal dua puluh tahunan.

Pemimpin masa depan adalah seorang pemimpin dalam setiap bidang kehidupan, khususnya kehidupan keluarga. Kebutuhan dan peluang yang luar biasa dalam masyarakat menuntut tanggung jawab besar terhadap pelayanan. Tiada tempat lain yang tepat dimana suasana pelayanan dapat ditumbuhkankembangkan kecuali di lingkungan rumah tangga. Suasana rumah tangga, dan juga sekolah, dalam mempersiapkan kaum muda untuk mencapai kemajuan dan pelayanan. Hidup adalah suatu misi, bukan karier. Seluruh jiwa dari falsafah ini harus tertanam erat di dalam masyarakat kita. Saya juga berpendapat bahwa hal ini merupakan sumber kebahagiaan, akan tetapi anda tidak bisa memperoleh kebahagiaan tersebut secara langsung. Kebahagiaan itu datang sebagai produk sampingan dari pelayanan. Mungkin anda bisa secara langsung memperoleh kesenangan, akan tetapi itu dengan secara cepat berlalu.

Jadi bagaimanakah, kita bisa mempengaruhi anak-anak kita akan jiwa pelayanan dan sumbangan yang bermakna? Pertama, kita harus melakukan introspeksi dan bertanya : Apakah saya sendiri sudah menjadi model dari prinsip pelayanan itu sendiri? Apakah keluarga saya melihat bahwa saya ,menyediakan waktu dan kemampuan saya untuk melayani mereka dan masyarakat? Kedua, apakah saya menyediakan waktu untuk membaktikan diri dan keluarga dalam kebutuhan orang lain dalam masyarakat agar dapat menciptakan suatu kesadaran bervisi tentang bagaimana keluarga kita dan masing-masingnya sebagai individu dapat memberikan kontribusi yang unik dan bermakna untuk memenuhi kebutuhan itu? Ketiga, apakah saya sebagai pemimpin dalam keluarga bisa menyelaraskan prioritas dan struktur kehidupan sedemikian rupa hingga hasrat melayani memperoleh dukungan dan tidak dirongrong? Akhirnya, apakah saya sudah menciptakan kondisi dan peluang di dalam rumah yang akan memberdayakan keluarga saya untuk melayani? Apakah saya memberi dorongan dan dukungan dalam pengembangan pola pikir dan bakat mereka? Apakah saya mengoordinasikan kesempatan melayani untuk seluruh keluarga dan apakah saya berusaha menciptakan suatu suasana yang menyenangkan di sekitar kegiatan itu? Bahkan jika jawaban atas setiap pertanyaan yang tersebut diatas adalah tidak, kita masih memiliki kemampuan untuk memutuskan apa yang akan terjadi dengan hidup kita mulai hari ini.

Kapasitas yang melekat untuk memilih mengembangkan suatu visi baru dalam diri kita, merumuskan kembali kehidupan kita, mengawali suatu kebiasaan baru atau menghapus suatu kebiasaan lama, mengampuni orang lain, meminta maaf, membuat suatu janji dan mematuhinya, dan dalam setiap bidang kehidupan, senantiasa menjadi momentum kebenaran bagi setiap pemimpin sejati.

————–
Sumber: http://alike.wordpress.com/2008/12/01/tiga-peranan-pemimpin-dalam-paradigma-baru/

Sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-3Ap3R76W0Bc/Tz9n5p5cBkI/AAAAAAAACRg/IWnurmAoUas/s1600/gb%2Bparadigma%2Bbaru.jpg

—o0o—

Informasi tentang pengembangan SDM, dll., di sini.

—o0o—

About karuniasemesta

Kelompok Karunia Semesta (KKS) merupakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan motto: "Saling berbagi membangun hidup bermartabat." Kelompok ini memberi pelayanan: konsultasi, mentoring, pendampingan & coaching/pelatihan. Kegiatan rutin yang dikerjakan antara lain memberi pelayanan sosial, konsultasi, pendampingan dan mentoring kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan untuk menyelesaikan permasalah sosial, ekonomi. pendidikan, kesehatan, dll. Di samping itu, KKS juga memberi coaching/pelatihan pengembangan sumber daya manusia, a.l. Pelatihan Shifting Character for Success, Menjadi Pemimpin yang Tangguh, Self Empower, Pelatihan Teamwork Berkinerja Prima, dan Pelatihan Soft-skills: inisiatif, inovasi, decision making, problem solving, manajemen waktu, pendelegasian, resolusi konflik, manajemen teamwork, PDCA/ PDSA, strategic planning, dll. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kantor Pusat: Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663 e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id. Kontak: Dwiatmo Kartiko Dwiatmo Kartiko lahir di Blora pada 30 Mei 1963. Masa kecil hingga menyelesaikan SMA dijalani di kota kecil di Jawa Tengah tersebut. Pada tahun 1986, menyelesaikan pendidikan S-1 Geografi di Univ. Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah lulus, sempat mengajar di Univ. Kristen Satya Wacana, Salatiga, selama 3 (tiga) semester, hingga pertengahan tahun 1988. Setelah itu, kegiatan sehari-harinya dihabiskan dengan menggeluti dunia LSM yang berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan lingkungan, baik di LSM lokal maupun LSM Internasional, mulai dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta, WALHI Yogyakarta, PELKESI dan diteruskan masuk menjadi staf PLAN Internasional Indonesia. Mulai tahun 2000, dunia usaha menjadi impian hidupnya, sambil masih terus terlibat di dalam dunia pemberdayaan SDM. Itulah sebabnya, sejak tahun 2006 pengembangan SDM menjadi fokus aktivitas sehari-harinya, dengan menjadi fasilitator pemberdayaan SDM secara individual dan kelompok, baik itu organisasi atau perusahaan. Saat ini bersama isteri dengan dua anak, tinggal di Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Bisa dikontak via Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667; 08886829663; e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
This entry was posted in Paper and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s