Toleransi Beragama

Oleh: Dwiatmo Kartiko

Suatu hari di bulan Mei 2012, saya bertemu teman saya EY (singkatan nama), dia bukan tokoh agama, namun sehari-hari aktif dalam menjalankan perintah-perintah agama, kami berdua ngomong-ngomong tentang berbagai hal. Pada saat akhir pembicaraan saya menceritakan kebaikan teman saya yang lain, yaitu AS (singkatan nama). Saya mengatakan kepada EY: “Si AS itu orangnya baik banget lho. Dia rendah hati, suka menolong orang lain, mau berbagi dari semua hal yang dia miliki, disenangi banyak teman-temannya, tidak mau menonjolkan diri, dll. Pokoknya dia itu orangnya baik banget. Saya kagum kepadanya.” Mendengar perkataan saya, kemudian EY menjawab agak sinis: “Walaupun semua orang mengatakan dia itu orang yang baik, tetapi karena tidak seagama dengan saya,  saya tetap menganggap dia bukan orang yang baik.” Saya heran dengan jawabannya, dan terdiam. Pembicaraan berhenti sampai di situ, tidak bisa dilanjutkan.

Begitu hinanya semua orang lain dimata EY, kalau mereka berbeda agama dengan dirinya. Bahkan hanya sepatah kata yang bisa menyenangkan orang lain saja tidak mau dia ucapkan. Mengapa dia bisa seperti itu? Apakah memang seperti itulah ajaran agamanya? Atau itu hanya pemikirannya sendiri?

Kalau kita perhatikan ajaran-ajaran agama yang ada di dunia ini, sejarah lahir, tumbuh dan berkembangnya kurang-lebih mempunyai kemiripan. Kira-kira seperti cerita berikut ini. Pada jaman dahulu, ketika belum ada pesawat terbang, apalagi internet, dan kantor pos masih terbatas, ada sekelompok manusia atau komunitas yang hidup di daerah terisolir. Semula keadaan mereka baik-baik, semakin lama jumlah warganya semakin banyak. Mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tetapi, entah karena apa, sedikit demi sedikit mulai timbul konflik, semakin lama konflik membesar, terjadi perpecahan, ada pembunuhan dan bahkan pemusnahan antar manusia di daerah tersebut. Semuanya menjadi tidak kondusif. Masa depan kehidupan manusia di wilayah itu terancam.

Ada kekuatan dahsyat di luar manusia, yaitu kekuatan yang tidak kelihatan yang menciptakan bumi dan seisinya, termasuk menciptakan manusia, tidak berkenan dengan kejadian tersebut. Kemudian dengan kuasaNya yang dahsyat, Dia berkomunikasi dengan ciptaanNya yang dipilih olehNya sendiri. Karena Dia tidak kelihatan, maka bentuk komunikasinya berbeda dengan komunikasi antar manusia. Dia berkomunikasi dengan ciptaanNya melalui wahyu atau wangsit. Melalui pewahyuan, Dia mengajarkan bagaimana cara manusia, secara individu dan bersama-sama, bisa hidup di dunia ini agar semakin hari semakin lebih baik, secara turun-temurun, hingga akhir jaman, bahkan hingga di dunia yang tidak kelihatan nantinya (akhirat). Jangan sampai spesies manusia punah seperti makhluk pendahulunya, yaitu Dinosaurus.

Supaya pesan tentang bagaimana cara manusia, secara individu dan bersama-sama, bisa hidup di dunia ini agar semakin hari semakin lebih baik, secara turun-temurun bisa diterima oleh akal pikiran manusia, maka pewahyuannya menggunakan bahasa yang dipahami oleh manusia yang hidup di daerah terisolir tersebut. Bahasa yang berkembang di suatu wilayah berkaitan erat dengan kebudayaan. Sedangkan pesan tentang bagaimana cara manusia, secara individu dan bersama-sama,  bisa hidup di dunia ini agar semakin hari semakin lebih baik, secara turun-temurun disebut agama atau kepercayaan.

Kisah lahir, tumbuh dan berkembangnya agama mungkin saja seperti itu manakala kita mengetahui sejarah dari berbagai agama yang ada di dunia ini. Sebagai contoh: Agama yang berkembang dengan kebudayaan Timur Tengah: Yudaisme dan Kristen. Agama yang berkembang dengan kebudayaan Arab: Islam. Agama yang berkembang dengan kebudayaan Tibet: Buddha. Agama yang berkembang dengan kebudayaan India: Hindu. Agama yang berkembang dengan kebudayaan Cina: Taoisme. Kepercayaan yang berkembang dengan kebudayaan Jawa: Kejawen. Dan masih ada beberapa agama atau kepercayaan yang lain yang berkembang  sesuai dengan kebudayaan yang ada di beberapa daerah.
Dengan memahami asal muasal agama dan kepercayaan, maka bisa dinyatakan bahwa agama atau kepercayaan itu merupakan sarana atau tools atau means, agar manusia bisa hidup berkenan di hadapanNya. Karena agama itu merupakan sarana atau tools atau means, maka agama itu bukan tujuan hidup manusia yang sebenarnya. Tujuan hidup manusia yang sebenarnya atau hasil akhir atau ends dari orang beragama yaitu menjadi manusia, yang secara individu dan bersama-sama, bisa hidup di dunia semakin hari semakin lebih baik, secara turun-temurun, hingga di akhirat.

Karena masing-masing agama dan kepercayaan mewajibkan agar ajarannya diajarkan secara turun-temurun, dan dunia semakin berkembang, transportasi dan komunikasi semakin mudah, hingga hampir tidak ada lagi daerah yang terisolir, maka tentu saja bisa terjadi di suatu tempat ada berbagai ajaran agama. Agama yang terdaftar di Indonesia ada beberapa a.l.: Islam. Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Di samping ada juga agama dan kepercayaan minoritas yang lainnya. Masing-masing agama mengajarkan kepada pemeluk-pemeluknya, agar mereka bisa hidup rukun dan secara bersama bisa hidup semakin lebih baik hingga turun-temurun.

Dengan kata lain, maksud Sang Pencipta mewahyukan beberapa agama atau kepercayaan adalah agar semua manusia yang ada di dunia ini, di mana pun mereka berada dan apa pun kebudayaannya, bisa hidup rukun dan secara bersama bisa hidup semakin lebih baik hingga turun-temurun. Bukan sebaliknya, manusia hanya sibuk mengurus agama atau kepercayaannya sendiri tanpa mempedulikan orang lain bahkan bila perlu memusnahkan orang lain yang berbeda dengan pemahamannya atau berbeda agama. Kalau ini yang terjadi, anggap saja ini ulah manusianya, bukan agama yang memerintahkannya.

Kisah tumbuh-kembang agama ini klop dengan urutan 5 sila dalam Pancasila. Menurut dosen Pancasila waktu di kuliah dulu, urutan 5 sila dari Pancasila itu sebagai urutan untuk membangun kehidupan bagi semua warga negara Indonesia. Dimulai dari manusia Indonesia yang ber-Tuhan (sila 1), kemudian bisa hidup rukun dan penuh toleransi dengan sesama manusia (sila 2), membangun satu kesatuan negara Indonesia (sila 3), menggunakan musyawarah/perwakilan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan semua warga negara (sila 4), agar negara bisa mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warga negara (sila 5).

Makanya kalau di Indonesia masih ada orang yang berfikir seperti EY: “Walaupun semua orang mengatakan dia itu orang yang baik, tetapi karena tidak seagama dengan saya,  saya tetap menganggap dia bukan orang yang baik,” sebenarnya dirinya masih sibuk dengan sarana atau tools atau means dari agamanya, belum memahami mendalam hingga hasil tujuan akhir atau ends dari orang beragama. Atau bisa dikatakan pemahaman agamanya masih belum tuntas. Cara hidup seperti ini kalau dilihat dari pengamalan Pancasila, dia sebenarnya baru bisa mengamalkan sila 1 saja, belum bisa dikatakan sudah mengamalkan sila 2, apalagi sila 3, 4 dan 5.

Demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia kita membutuhkan warga negara yang berpemahaman agama secara tuntas, tidak separo-separo, serta mau mengamalkan semua sila dari Pancasila. Salah satu bukti bahwa kita sudah memahami agama kita secara tuntas dan mau mengamalkan Pancasila adalah mengamalkan toleransi beragama.

Semoga bermanfaat.

—o0o—

Informasi tentang pengembangan SDM, dll., di sini.

—o0o—

About karuniasemesta

Kelompok Karunia Semesta (KKS) merupakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan motto: "Saling berbagi membangun hidup bermartabat." Kelompok ini memberi pelayanan: konsultasi, mentoring, pendampingan & coaching/pelatihan. Kegiatan rutin yang dikerjakan antara lain memberi pelayanan sosial, konsultasi, pendampingan dan mentoring kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan untuk menyelesaikan permasalah sosial, ekonomi. pendidikan, kesehatan, dll. Di samping itu, KKS juga memberi coaching/pelatihan pengembangan sumber daya manusia, a.l. Pelatihan Shifting Character for Success, Menjadi Pemimpin yang Tangguh, Self Empower, Pelatihan Teamwork Berkinerja Prima, dan Pelatihan Soft-skills: inisiatif, inovasi, decision making, problem solving, manajemen waktu, pendelegasian, resolusi konflik, manajemen teamwork, PDCA/ PDSA, strategic planning, dll. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kantor Pusat: Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663 e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id. Kontak: Dwiatmo Kartiko Dwiatmo Kartiko lahir di Blora pada 30 Mei 1963. Masa kecil hingga menyelesaikan SMA dijalani di kota kecil di Jawa Tengah tersebut. Pada tahun 1986, menyelesaikan pendidikan S-1 Geografi di Univ. Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah lulus, sempat mengajar di Univ. Kristen Satya Wacana, Salatiga, selama 3 (tiga) semester, hingga pertengahan tahun 1988. Setelah itu, kegiatan sehari-harinya dihabiskan dengan menggeluti dunia LSM yang berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan lingkungan, baik di LSM lokal maupun LSM Internasional, mulai dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta, WALHI Yogyakarta, PELKESI dan diteruskan masuk menjadi staf PLAN Internasional Indonesia. Mulai tahun 2000, dunia usaha menjadi impian hidupnya, sambil masih terus terlibat di dalam dunia pemberdayaan SDM. Itulah sebabnya, sejak tahun 2006 pengembangan SDM menjadi fokus aktivitas sehari-harinya, dengan menjadi fasilitator pemberdayaan SDM secara individual dan kelompok, baik itu organisasi atau perusahaan. Saat ini bersama isteri dengan dua anak, tinggal di Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Bisa dikontak via Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667; 08886829663; e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
This entry was posted in Paper and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s