Menjalani Hidup dengan Ikhlas

Oleh: Dwiatmo Kartiko

“Jiwa yang tidak ikhlas akan selalu gelisah,…”
Mario Teguh

Pada suatu sesi pelatihan leadership, ketika saya, sebagai fasilitator, mengatakan: “Agar setiap saat selalu ada rasa syukur di dalam diri kita, maka kita perlu untuk mengikhlaskan semua hal yang sudah terjadi,” langsung saja ada peserta pelatihan yang tunjuk jari untuk bertanya: “Bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan ikhlas, kalau kebutuhan hidup selalu meningkat sementara hasil usaha selalu tidak mencukupi?”

Kemudian saya jawab: “Iya memang bisa seperti itu. Seolah-olah semua terjadi semaunya sendiri. Semua terjadi di luar skenario kita. Hingga kita menjadi tidak percaya diri dan gelisah: ‘Apakah masih sanggup saya melanjutkan hidup ini?’ Namun, pada saat kita menghadapi keadaan di luar skenario seperti itu, kalau mau, justru pada saat itulah kita bisa membuktikan kekuatan ikhlas, cobalah untuk hidup tanpa skenario, atau hidup menerapkan prinsip: ‘apa yang terjadi biarlah terjadi,’ maka pada saat yang tepat, bisa saja tahu-tahu ada solusi yang menghampiri kita.”

“Maksud saya begini, kita tetap perlu mempunyai rencana, baik itu rencana jangka panjang yang strategis, maupun rencana yang detail, tetapi setelah semua rencana kita eksekusi dengan teliti dan benar, relakan atau pasrahkan atau ikhlaskan semua hasilnya kepada Dia yang di atas. Karena apa pun hasil kerja kita, boleh percaya boleh tidak, 100% di luar kendali kita. Kalau ada orang yang merasa bisa mengendalikan, itu hanya kesombongan diri, pada saatnya orang yang seperti ini akan menemukan batunya.” Begitulah jawaban saya.

Ketika kita membicarakan hidup dengan ikhlas, sebenarnya kita juga membahas hidup dengan rela, narima, tulus, pasrah dan sabar. Karena kata ikhlas berasosiasi dengan semua kata-kata tersebut. Artinya, kalau kita hidup ikhlas kita juga perlu bisa menjalani hidup ini dengan rela, atau tidak bersungut-sungut, bisa narima akan segala hal yang kita hadapi, mau bekerja dengan tulus, pasrah dan sabar.

Ada yang mengumpamakan bahwa hidup dengan ikhlas 100% itu sama dengan orang mati. Ketika seseorang menemui ajal kematian, maka tahta, harta, karya, keluarga dan semua miliknya ditinggalkan begitu saja. Orang yang bisa hidup ikhlas seperti ini istilahnya mati sak jroning urip, kalau oleh Professor Damarjati Supajar, dosen filsafat ketuhanan UGM, dikatakan ‘hidup dengan bilangan nol.’

“Barangsiapa bisa membagi bilangan nol, manusia baru akan bisa mbobot (mengandung) ruh, yakni janji Illahi.”
Damarjati Supajar

Bagi mereka yang mengimani, ikhlas seperti ini diberi contoh oleh jalan hidup Yesus (Nabi Isa Almasih), yaitu dengan cara Dia menyerahkan tubuhnya dan darahnya untuk dunia, dilambangkan dengan roti yang dipotong-potong dan anggur yang dibagi-bagikan kepada siapa saja yang percaya. KeikhlasanNya dibuktikan dengan ketulusanNya menjalani akhir hidupNya dengan penyiksaan, yang kalau terjadi pada saat ini termasuk kategori pelanggaran HAM berat, dan rela mati di kayu salib.

Namun anehnya, justru karena ikhlas 100% inilah, maka Dia bisa terbebas dari berbagai hukum-hukum alam dan terbebas dari kungkungan ruang dan waktu. Dia bisa hidup dengan tubuh rohani dan bisa moksha.

“Mosok sih bisa kayak gitu, lha nanti kan kita hidup gak punya apa-apa?” inilah pertanyaan kita selanjutnya.

Ketika kita tidak bisa ikhlas 100% kita tidak bisa menjadi diri kita yang sebenarnya, tetapi kita menjadi diri yang dikendalikan oleh nafsu kadonyan. Kalau mau jujur, mereka yang mempunyai kebiasaan mencuri, merampok, korupsi, money politic, dan perbuatan curang lainnya, hampir semuanya diawali dari merasa tidak ikhlas dengan kehidupan mereka masing-masing.

Perasaan ikhlas: ‘yang terjadi biarlah terjadi’ akan merontokkan perasaan-perasaan negatip yang ada di dalam diri kita, antara lain: takut, malu, gelisah, kecewa, iri, dengki, marah, ngoyo, dendam, dan sombong. Semua perasaan negatip ini cepat atau lambat akan bisa menjerumuskan kita masuk ke dalam jurang penderitaan. Dengan hidup ikhlas kita akan bisa merasakan percikan bahagia di dalam keadaan hidup seperti apapun.

Kalau kita pikir agak lebih kritis, ketika kita hidup apa sih kebutuhan pokok kita sehati-hari? Antara lain: makan sehari 3 kali, pakaian yang bersih, enak dipakai dan kuat, tempat untuk istirahat, tempat duduk untuk belajar, bekerja dan bersantai, alat transportasi untuk mengantar ke tempat kerja dan rekreasi, mungkin seperti itu kebutuhan kita. Kalau kita hitung dengan rupiah, mungkin sekitar puluhan hingga beberapa ratus ribu rupiah per hari.

Lha kalau ada pengusaha atau kopurtor yang menyimpan atau menyembunyikan kekayaan puluhan milyar hingga trilyunan rupiah (nolnya 12, banyak banget), terus mau untuk apa? Apa dia mau makan 10 kali sehari? Kan gak mungkin. Atau untuk membeli rumah 10 buah? Karena tubuhnya hanya 1, sudah tinggal di salah satu rumahnya, terus siapa yang menggunakan 9 rumah lainnya? Sementara kalau dia mau melihat kenyataan, pada saat dia menyembunyikan uang puluhan milyar hingga trilyunan rupiah tersebut, di sekitarnya ada beribu-ribu orang miskin, tidak punya rumah, tidak bisa makan, dll. Maksud saya bukannya orang kaya harus menjadi sinterklas, tetapi setidak-tidaknya ada pemahaman bahwa di dalam kelebihan kita ada tersisip jatah hidup untuk orang lain yang tersisih.

Dengan sistem ekonomi dunia yang kapitalis dan menganak-emaskan pasar bebas seperti saat ini, sudah pasti ada banyak orang yang kalah dalam persaingan, tersisih dan terpinggirkan oleh sistem tersebut. Bagi siapa saja yang berkelebihan mempunyai tugas untuk ikut memikirkan dan menjadikan mereka bisa hidup lebih baik dan lebih layak.  Untuk meningkatkan taraf hidup mereka tidak mesti harus melakukan charity, seperti BLT, tetapi bisa mengembangkan ekonomi produktif dan inovatif dengan memberdayakan dan melibatkan mereka, atau dengan cara yang lainnya yang appropriate.

Keikhlasan adalah suatu proses pemurnian diri dari nafsu duniawi, yang bila tidak dimurnikan bisa membutakan manusia sebagai makhluk yang mulia di antara semua ciptaan Tuhan. Yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lainnya adalah pikiran yang dimiliki oleh manusia. Ketika kita bisa menjalani hidup dengan ikhlas, maka pikiran kita akan menjadi jernih, bersih, suci, atau hening, sehingga kita bisa mengakses suara hati nurani yang paling lembut sekali pun, dan bisa mengelola pikiran bawah sadar dengan hanya didominasi oleh getaran-getaran atau energi-energi yang positip.

Dengan kata lain, kekuatan sejati manusia bukanlah kekuatan yang terlihat dari kepemilikan tahta, atau harta atau kepuasan nafsu-nafsu duniawi lainnya, melainkan kekuatan sejati manusia adalah kemampuan mengelola pikiran bawah sadar dengan benar dan kemampuan mengakses ke suara hati nurani yang paling lembut.

Kembali pada contoh Nabi Isa Almasih, walaupun ketika hidup Dia tidak mau mengoleksi barang-barang duniawi sedikitpun, bisa jadi beliau juga tidak mempunyai KTP,

  • ketika bertemu orang lumpuh, hanya mengucapkan sesuatu, orang lumpuh tersebut kembali bisa berjalan;
  • ketika bertemu orang buta, sakit jiwa, dan penderita berbagai penyakit lainnya, bisa disembuhkan;
  • ketika ditemui oleh 5000 orang yang belum makan, diberi makan semuanya;
  • ketika bertemu orang mati, dibangkitkan.

Inilah contoh kekuatan sejati manusia, kekuatan supra natural.

“Iya sih, tapi kan Isa Almasih itu nabi, sedangkan kita ini kan orang biasa-biasa saja.” Begitu kira-kira pikiran bawah sadar kita menyabotase agar kita tidak bisa akses ke kekuatan sejati manusia. Kita perlu hati-hati dengan pikiran kita sendiri, karena kita bisa menjadi apa pun seperti yang kita yakini. Benar memang Isa Almasih itu nabi, tapi coba kita lihat murid-muridnya, yang pekerjaannya semula sebagai nelayan, tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, ketika sudah kerasukan Roh Kudus, atau ketika Roh Kudus telah menguasai hidup mereka, terbukti mereka juga bisa menyembuhkan orang sakit, dan bahkan ada juga yang bisa membangkitkan orang mati.

Jadi, menjalani hidup dengan ikhlas itu sebenarnya adalah salah satu syarat agar kita bisa menemukan jalan hidup yang benar atau jalan hidup yang lurus. Bisa juga dikatakan menjalani hidup dengan ikhlas itu sebagai fondasi agar kita bisa menjadi manusia ciptaan Tuhan dengan seutuhnya.

Semoga bermanfaat.

“Jika Anda mau menerima dan mensyukuri hari ini apa adanya, menyatu dan lebur di dalamnya, Anda akan mengalami denyut kehidupan yang indah nan ritmis, cemerlang, gemilang dalam setiap peristiwa yang anda lewati. Begitu Anda mengalami kebahagiaan roh dalam setiap wujud kehidupan dan menyatu dengannya, maka kebahagiaan akan hadir dalam relung-relung sanubari Anda, serta terbebas dari beban berat, kendala defensif, rasa amarah dan penderitaan. Anda akan lahir sebagai pribadi yang bebas, bahagia, lapang dada. Pribadi yang tercerahkan.”
Deepak Chopra

-o0o-

Informasi tentang pengembangan SDM, dll., di sini.

—o0o—

About karuniasemesta

Kelompok Karunia Semesta (KKS) merupakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan motto: "Saling berbagi membangun hidup bermartabat." Kelompok ini memberi pelayanan: konsultasi, mentoring, pendampingan & coaching/pelatihan. Kegiatan rutin yang dikerjakan antara lain memberi pelayanan sosial, konsultasi, pendampingan dan mentoring kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan untuk menyelesaikan permasalah sosial, ekonomi. pendidikan, kesehatan, dll. Di samping itu, KKS juga memberi coaching/pelatihan pengembangan sumber daya manusia, a.l. Pelatihan Shifting Character for Success, Menjadi Pemimpin yang Tangguh, Self Empower, Pelatihan Teamwork Berkinerja Prima, dan Pelatihan Soft-skills: inisiatif, inovasi, decision making, problem solving, manajemen waktu, pendelegasian, resolusi konflik, manajemen teamwork, PDCA/ PDSA, strategic planning, dll. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kantor Pusat: Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663 e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id. Kontak: Dwiatmo Kartiko Dwiatmo Kartiko lahir di Blora pada 30 Mei 1963. Masa kecil hingga menyelesaikan SMA dijalani di kota kecil di Jawa Tengah tersebut. Pada tahun 1986, menyelesaikan pendidikan S-1 Geografi di Univ. Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah lulus, sempat mengajar di Univ. Kristen Satya Wacana, Salatiga, selama 3 (tiga) semester, hingga pertengahan tahun 1988. Setelah itu, kegiatan sehari-harinya dihabiskan dengan menggeluti dunia LSM yang berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan lingkungan, baik di LSM lokal maupun LSM Internasional, mulai dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta, WALHI Yogyakarta, PELKESI dan diteruskan masuk menjadi staf PLAN Internasional Indonesia. Mulai tahun 2000, dunia usaha menjadi impian hidupnya, sambil masih terus terlibat di dalam dunia pemberdayaan SDM. Itulah sebabnya, sejak tahun 2006 pengembangan SDM menjadi fokus aktivitas sehari-harinya, dengan menjadi fasilitator pemberdayaan SDM secara individual dan kelompok, baik itu organisasi atau perusahaan. Saat ini bersama isteri dengan dua anak, tinggal di Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Bisa dikontak via Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667; 08886829663; e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
This entry was posted in Paper and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menjalani Hidup dengan Ikhlas

  1. I visit everyday some websites and blogs to read articles or reviews, except this weblog provides quality based articles.

  2. iswantono says:

    Apik ulasane…tx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s