Konsep Reinkarnasi pada Nasrani dan Yunani Kuno

Oleh: Epochtimes

Pada umumnya orang menganggap reinkarnasi berasal dari aliran Buddha di Timur, yakni orang yang berada dalam enam jalur samsara akan terlahir kembali. Dalam proses tersebut kondisi keberadaan orang pada saat itu disebut kehidupan sekarang, dan kehidupan reinkarnasi sebe­lumnya disebut kehidupan sebelumnya, sedangkan re­inkarnasi setelah kehidupan sekarang disebut kehidupan berikutnya.

buddha-wallpaper-HD-280x175Menurut ajaran dalam aliran Buddha, takdir manusia dalam kehidupan sekarang ditentukan oleh akumulasi De (moral atau karma baik, baca: te), dan karma buruk seseorang dari kehidupan sebelumnya. Perilaku manusia pada kehidupan sekarang ini akan berpengaruh pada kehidupan berikutnya. Dalam catatan klasik Timur seperti Tiongkok dan India serta di tengah masyarakat, banyak tercatat dan beredar kisah ten­tang reinkarnasi.

Padahal kenyataannya, dalam ajaran Nasrani dan Yu­nani kuno di dataran Eropa pun terdapat konsep reinkar­nasi, bahkan para filsuf ter­nama Yunani kuno seperti Pythagoras, Plato, Apollonius dan lain-lain pernah menge­mukakan soal reinkarnasi.

pythagorasPythagoras pernah mengatakan, “Roh atau jiwa adalah sesuatu yang kekal, yang dapat terlahir kembali menjadi makhluk lain. Ke­mudian, segala sesuatu yang eksis, harus terlahir kembali dalam semacam sirkulasi ter­tentu, tidak ada sesuatu pun yang mutlak baru, segala sesuatu yang memiliki nyawa atau jiwa seharusnya diang­gap sebagai kerabat.”

Seorang filsuf Yunani kuno lain yang bernama Diogenes bahkan secara konkrit berbicara ten­tang Pythagoras yang dapat mengenang kembali 4 kali reinkarnasi (kehidupan) sebe­lumnya.

Seorang filsuf Yunani kuno lainnya yang mening­galkan kesan mendalam pada sejarah manusia yakni Plato, juga memiliki pandangan yang sama. Di dalam kitab Phaedrus ia menyatakan, semua roh yang terlahir kem­bali dalam jasad daging, jika hidup dengan jalan kebenaran maka akan mendapatkan na­sib yang lebih baik, dan jika tidak hidup pada jalan yang benar, maka nasibnya akan menjadi lebih buruk.

platoPlato bahkan menjelaskan bahwa manusia akan terlahir pada jasad tubuh yang berbe­da yang ditentukan berdasar­kan perilakunya yang berbeda pula, seperti “orang-orang yang tidak berusaha keras un­tuk menghindari sifat rakus, egois, suka mabuk-mabukan, sangat mungkin akan terla­hir kembali menjadi keledai atau binatang pemalas lain­nya, orang-orang yang suka menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab, ti­dak taat hukum dan etika, suka melakukan kekerasan, akan terlahir menjadi serigala, elang, ataupun alap-alap, sedangkan kaum rakyat biasa yang penuh kebaikan, karena kebiasaan dan penerapan tanpa harus ada filosofi ataupun bantuan rasional, mungkin dapat terlahir dalam kehidupan bermasyarakat pada makhluk hidup yang memiliki disiplin, seperti lebah, atau semut, bahkan dapat terlahir kembali menjadi manusia.”

Sedangkan roh yang baru pertama kali terlahir kembali, Plato mengatakan mereka tidak akan terlahir sebagai binatang melainkan hanya akan terlahir sebagai manu­sia, akan tetapi mereka akan terlahir menjadi 9 jenis ma­nusia yang berbeda berdasar­kan tingkat eksistensi konkrit yang bisa mereka lihat. Di antaranya banyak yang akan memilih untuk mengejar ke­bijaksanaan atau keindahan, dan sedikit yang memilih un­tuk menjadi tiran.

Lalu bagaimana caranya menyucikan roh? Menurut Plato, hanya dengan cara mengenali ajaran kebenaran, mencari kesejatian, keindah­an, dan kebajikan, roh itu baru dapat disucikan. Ia berkata, “Roh yang suci jika tidak bisa mengikuti ajaran Dewa, bah­kan tidak dapat melihat ke­benaran apapun, maka akan mengalami musibah, pelupa dan terseret dosa, serta akan melukai sayapnya dengan be­ban berat dan jatuh ke tanah, maka ia pun akan tenggelam mengikuti hukum semacam itu.”

Maksudnya adalah, jika seseorang tidak mengikuti ajaran kebenaran, tidak men­cari kebijaksanaan, pada akhirnya manusia hanya akan terseret ke dalam dosa dan tenggelam di tengah nafsu serta tidak bisa bangkit lagi, maka kualitas jiwanya pun akan terus merosot.

Plato juga berkata, “Jika seseorang beralih pada ke­hidupan yang lebih hina tanpa filsafat, dan mengejar ketenaran semu, maka disaat rohnya tidak sadar atau se­dang mabuk, di saat dirinya tidak siaga, dua ekor kuda liar (nafsu dan gairah) di dalam rohnya akan membawanya ke suatu tempat, untuk melaku­kan hal-hal yang bagi kebanyakan manusia biasa adalah hal yang menggembirakan untuk memuaskan hasratnya. Setelah melakukannya, mereka pun akan terus melakukan­nya.”

Maknanya adalah jika seorang manusia tenggelam di dalam kenikmatan duniawi, akan kehilangan kebijaksanaan, sehingga akan terus bereinkarnasi kembali di antara hidup dan mati un­tuk memuaskan hasratnya. Seorang filsuf Yunani kuno yang lain, bernama Apollonius, mengajarkan reinkarnasi sebagai inti dari ajarannya.

Setelah peradaban Yu­nani kuno dan Romawi kuno, dalam agama Nasrani yang sangat berpengaruh pada per­adaban Barat juga menying­gung soal reinkarnasi. Kitab kuno “Gulungan Kuno Laut Mati” yang ditulis sejak tahun 200 SM hingga tahun 68 SM terdapat catatan tentang imam agung bernama Melchizedek yang terlahir kembali saat bangsa Yahudi aliran Qumran Essenes menantikan “Kitab Kejadian”, dalam “Ibrani” pada Kitab Perjanjian Baru Yesus sebagai imam agung Melchizedek tepat sesuai dengan legenda kuno Essenes tersebut.

Dari catatan seorang seja­rawan Yahudi, Flavius Jose­phus, pada abad kesatu dapat dilihat pada 3 aliran utama agama Yahudi waktu itu, se­lain aliran Sadducees, Essenes dan Pharisees, semuanya meyakini adanya reinkarnasi. Dan pastor abad kedua yang berpengaruh pada seluruh agama Nasrani yakni Origen, juga meyakini bahwa suatu jiwa akan mendapatkan buah karma yang berbeda pada ke­hidupan sekarang tergantung pada kebaikan maupun ke­jahatan yang dilakukan pada kehidupan sebelumnya, dan akan terus terlahir kembali tanpa akhir. Pernyataan ini masih terus eksis di gereja ortodoks se­lama 300 tahun lamanya.

YesusKenyataannya, pernyata­an tertentu dalam Kitab Per­janjian Baru dapat dijelaskan dengan jauh lebih mudah jika menggunakan sudut pandang reinkarnasi. Seperti pada In­jil Yohanes tertulis demikian: Saat Yesus ke sana, terlihat se­seorang yang telah buta sejak ia terlahir. Para pengikut pun bertanya pada Yesus, “Nabi, orang ini sudah buta sejak di­lahirkan, siapa yang berdosa, apakah orang ini, atau kedua orang tuanya?” Yesus men­jawab, “Bukan orang ini yang melakukan dosa, juga bukan orang tuanya yang melaku­kan dosa, melainkan untuk menunjukkan kuasa Tuhan pada dirinya.”

Yesus sendiri menggunakan contoh nyata reinkarnasi yang paling terkenal, adalah ketika menjelaskan hubungan antara sang pembaptis Yohanes dengan Nabi Ilya. Bisa dilihat pada Injil Ma­tius: Para pengikut bertanya pada Yesus, “Mengapa ahli Taurat mengatakan Ilya ha­rus datang lebih dulu?” Yesus menjawab, “Tentu saja Ilya harus datang lebih dulu, dan harus membangkitkan banyak hal.” “Hanya saja Kuberitahu engkau, Ilya telah datang, tapi manusia tidak mengenalinya, bahkan memperlakukannya semena-mena. Maka anak manusia pun akan menderita akibat mereka.”

Para pengikut baru memahami arti perkataan Yesus, ternyata yang dimaksud adalah Yohanes sang pembaptis.

Sekitar abad keenam, Kai­sar Romawi Timur Justinian I baru mulai mencari cara un­tuk menuduh perkataan Pas­tor Origen sebagai bidaah, lalu memenjara Paus Vigilius yang mendukung pernyataan ini, dan mulai menghapus pernyataan tentang reinkar­nasi dari Alkitab. Jelas bahwa alasan utama menyangkal re­inkarnasi adalah “takut konsep reinkarnasi akan melemahkan sisi penting disalibnya Yesus Kristus”.

Tapi dari Alkitab yang telah dihapus sebagian itu pun, kita masih dapat mene­mukan sedikit jejak mengenai reinkarnasi. Dan dalam kitab “Gulungan Kuno Laut Mati” yang paling mutakhir ditemu­kan juga tertulis adanya mak­na ajaran Persaudaraan Putih, termasuk tentang reinkarnasi, paham vegetarian dan banyak lagi ajaran agama yang telah asing bagi pengikut Nasrani masa kini.

Dari sini dapat diketahui, tidak hanya orang Timur yang percaya akan reinkarnasi, se­jak zaman dulu kala di Barat telah eksis konsep yang sama, serta contoh nyata yang ada juga tidak kurang. Dalam edisi mendatang akan diper­kenalkan kepada pembaca serangkaian kisah reinkarnasi dari Eropa. (sud/ran)

Catatan:
Karma = bahasa sansekerta, secara harfiah berarti: hasil perbua­tan.

Sumber:
http://erabaru.net/headline/6582-konsep-reinkarnasi-pada-nasrani-dan-yunani-kuno

—o0o—

– Informasi tentang pengembangan SDM, dll., di sini.

—o0o—

About karuniasemesta

Kelompok Karunia Semesta (KKS) merupakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan motto: "Saling berbagi membangun hidup bermartabat." Kelompok ini memberi pelayanan: konsultasi, mentoring, pendampingan & coaching/pelatihan. Kegiatan rutin yang dikerjakan antara lain memberi pelayanan sosial, konsultasi, pendampingan dan mentoring kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan untuk menyelesaikan permasalah sosial, ekonomi. pendidikan, kesehatan, dll. Di samping itu, KKS juga memberi coaching/pelatihan pengembangan sumber daya manusia, a.l. Pelatihan Shifting Character for Success, Menjadi Pemimpin yang Tangguh, Self Empower, Pelatihan Teamwork Berkinerja Prima, dan Pelatihan Soft-skills: inisiatif, inovasi, decision making, problem solving, manajemen waktu, pendelegasian, resolusi konflik, manajemen teamwork, PDCA/ PDSA, strategic planning, dll. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kantor Pusat: Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663 e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id. Kontak: Dwiatmo Kartiko Dwiatmo Kartiko lahir di Blora pada 30 Mei 1963. Masa kecil hingga menyelesaikan SMA dijalani di kota kecil di Jawa Tengah tersebut. Pada tahun 1986, menyelesaikan pendidikan S-1 Geografi di Univ. Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah lulus, sempat mengajar di Univ. Kristen Satya Wacana, Salatiga, selama 3 (tiga) semester, hingga pertengahan tahun 1988. Setelah itu, kegiatan sehari-harinya dihabiskan dengan menggeluti dunia LSM yang berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan lingkungan, baik di LSM lokal maupun LSM Internasional, mulai dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta, WALHI Yogyakarta, PELKESI dan diteruskan masuk menjadi staf PLAN Internasional Indonesia. Mulai tahun 2000, dunia usaha menjadi impian hidupnya, sambil masih terus terlibat di dalam dunia pemberdayaan SDM. Itulah sebabnya, sejak tahun 2006 pengembangan SDM menjadi fokus aktivitas sehari-harinya, dengan menjadi fasilitator pemberdayaan SDM secara individual dan kelompok, baik itu organisasi atau perusahaan. Saat ini bersama isteri dengan dua anak, tinggal di Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Bisa dikontak via Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667; 08886829663; e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
This entry was posted in Paper and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s