Bisakah Kita Selalu Bersyukur Setiap Saat? Pasti Bisa!

Mana yang lebih sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari: mengeluh atau bersyukur? Kalau menurut para pemimpin agama sih kita harus selalu bersyukur, tetapi kenyataannya, kalau boleh transparan, tampak bahwa lebih banyak orang yang mengumpat dari pada yang bersyukur, terutama saat mereka menemukan hal-hal yang tidak mereka sukai.

“Aduh gimana nih?” “Asem, kemarin katanya mau bayar.” “Orang itu menyebalkan.” “Gimana sih, katanya sudah beres, kok masih ada yang komplain?” “Aduh pusing deh, kita dituntut latihan melulu, udah bosen.” “Busyet, tugasnya banyak banget.” Dan masih banyak lagi kata-kata yang tanpa disadari keluar dari mulut seseorang saat orang tersebut menghadapi hal-hal yang tidak dia harapkan, atau tidak dia sukai. Hal ini sebenarnya merupakan refleksi dari apa yang dominan di pikiran bawah sadarnya (sub-conscious mind), yaitu: tidak suka bersyukur.

Supaya bisa selalu bersyukur setiap saat, syaratnya kita perlu berlatih terus-menerus sampai sukses. Ciri-ciri bahwa latihan kita sudah berhasil adalah pada saat kita menjumpai berbagai hal yang tidak kita harapkan atau tidak kita disukai, maka di dalam pikiran/perasaan kita tidak ada rasa kecewa, dan lagi tidak mengeluarkan kata-kata keluhan. Kita bisa menghadapi berbagai-bagai persoalan: suka – tidak suka, enak – tidak enak, menyenangkan – mengecewakan, kesuksesan – ketidaksuksesan, hadiah – cobaan, dll. dengan suasana hati yang tetap selalu netral.

Bagaimana melatih suasana hati agar tetap selalu netral dalam menghadapi segala hal?

Ada 2 poin yang perlu kita renungkan untuk latihan.

1. Hubungan stimulus – respon. Apapun kejadian (stimulus) di luar diri kita tidak selalu bisa kita kontrol/kendalikan, tetapi keputusan (respon) kita terhadap kejadian tersebut 100% ada di bawah kendali/konrol kita.

stimulus-responseHubungan stimulus – respon

Contohnya, pada saat kita punya rencara bepergian, tahu-tahu turun hujan, karena hujan lebat kita membatalkan rencana tersebut. Di tempat lain, ada teman kita yang tetap bepergian, bersepeda motor dengan menggunakan jas hujan, walaupun hujan lebat. Hujan lebat (stimulus) memang di luar kendali kita, tetapi keputusan untuk tetap bepergian atau membatalkan rencana untuk bepergian itulah respon, yang 100% ada di bawah kendali kita.

Begitu juga saat kita menghadapi berbagai persoalan (stimulus), kita bisa selalu menjaga suasana hati agar tetap selalu tenang dan netral (respon). Bila kita bisa selalu tetap tenang/netral dalam menghadapi berbagai persoalan, maka  walaupun awalnya kita memaksakan pikiran/perasaan agar tetap tenang/netral, lama-kelamaan hal ini bisa menjadi kebiasaan kita. Sehingga, bila kita melakukannya secara terus-menerus, lambat laun kita bisa menghadapi berbagai-bagai persoalan: suka – tidak suka, enak – tidak enak, menyenangkan – mengecewakan, kesuksesan – ketidaksuksesan, hadiah – cobaan, dll. dengan suasana hati yang tetap selalu netral.

2. Semua kejadian itu netral. Pada hakikatnya, setiap kejadian itu netral, tidak ada nilainya. Yang membuat sebuah kejadian menjadi baik atau buruk, benar atau salah, bernilai atau sampah adalah mindset dan value yang kita anut.

Contohnya, apabila kita diminta untuk memilih antara daging segar 2 kilogram atau emas batangan 2 gram, maka tentu saja kita akan memilih emas batangan 2 gram. Tetapi, di episode lain, apabila daging segar 2 kilogram dan emas batangan 2 gram disodorkan kepada anjing yang lapar, maka anjing tersebut kemungkinan besar akan memlih daging segar, iya kan? Dari contoh ini kita mengetahui bahwa daging segar 2 kilogram dan emas batangan 2 gram sebenarnya netral, tidak mempunyai nilai sama sekali, tetapi nilai dari kedua obyek ini ada di dalam pikiran kita, atau pihak lain. Nilainya bisa sama, tetapi bisa juga berbeda.

Begitulah adanya dalam kehidupan ini, semua kejadian itu netral, tidak ada suka atau tidak suka, tidak ada enak atau tidak enak, tidak ada hal-hal menyenangkan atau mengecewakan, tidak ada kesuksesan atau ketidaksuksesan, tidak ada hadiah atau cobaan, dll. yang ada hanyalah kejadian-kejadian sehari-hari yang harus terjadi sesuai dengan tata atau sistem atau hukum kejadian yang seharusnya terjadi dalam kehidupan, dan semuanya netral. Karena semua kejadian itu netral, maka kita bisa bisa saja menilai semua kejadian itu kita “suka,” “enak,” “menyenangkan,” merupakan “kesuksesan,” atau “hadiah,” dengan tanpa pernah memikirkan atau merasakan “tidak suka,” “tidak enak,” “mengecewakan,” “ketidaksuksesan,” atau “cobaan.” Dengan cara ini, kita bisa selalu menjaga suasana hati kita agar bisa tetap selalu tenang dan netral dalam menghadapi berbagai kejadian hidup yang silih berganti.

Kalau kedua hal tersebut, yaitu: 1. Hubungan stimulus – respon; dan 2. Semua kejadian itu netral; selalu ter-install di dalam pikiran dan perasaan kita, maka sudah bisa dipastikan bahwa kita akan bisa menjadi figur yang mampu bersyukur dalam segala hal, atau bisa bersyukur setiap saat. Karena kita bisa merespon semua kejadian secara lebih bijaksana setelah kita bisa melihat bahwa semua kejadian itu sebenarnya tidak mempunyai nilai apa-apa, alias netral.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hal-hal yang perlu kita renungkan sebagai latihan, berikut ada 2 tulisan yang sangat mendukung untuk dibaca, yaitu:
1. Hubungan Stimulus-Response dan hubungan News-Opinion. Ditulis oleh Irawan Agung Hidayat; dan
2. Pelajaran yang Sulit untuk Diajarkan. Ditulis oleh Syarif Rousyan Fikri.

Silakan menyimak tulisan berikut ini, dan temukanlah benang merah dengan tulisan ini.

Salam,
Dwiatmo Kartiko

—o0o—

Hubungan Stimulus-Response dan hubungan News-Opinion

Irawan Agung Hidayat

Komentar seorang teman di Facebook wall tiba-tiba saja mengingatkan saya pada hubungan stimulus-response. Pada dasarnya berita (news) adalah stimulus yang merangsang dan menggerakkan otak kita untuk berpikir. Lalu opini/pendapat dan sikap kita adalah respon atas berita tersebut.

stimulus-responseHubungan stimulus-response

Pada hubungan stimulus-response ada sebuah konsep yang bernama freedom to choose. Respon kita atas sebuah rangsangan, berita atau apapun yang terindra oleh panca indra kita sebenarnya bisa kita pilih. Dalam hubungan stimulus-response ketiadaan freedom to choose ini menyebabkan logical shutdown, hilangnya akal sehat, sehingga emosi sesaat yang berperan. Sedangkan pada hubungan news-opinion ketiadaan freedom to choose akan menyebabkan hilangnya kemampuan berprikir kritis, critical thinking shutdown.

Orang-orang yang cerdas secara emosi memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola setiap stimulus (rangsangan) sehingga bisa memberikan respon yang sesuai. Sementara mereka yang kurang cerdas biasanya mudah sekali terpicu oleh rangsangan negatif dan respon mereka pun sejalan dengan rangsangan yang bersifat negatif tersebut. Orang-orang yang tidak memiliki freedom to choose ini mudah terprovokasi dan teragitasi.

Kaitannya dengan hubungan news-opinion, bisa jadi (bahkan sering) kita terjebak dalam hubungan news-opinion tanpa memiliki kebebasan ataupun kemauan untuk mencerna sebagai akibat dari fanatisme dan favoritisme.

critical-thinkingHubungan news-opinion

Hilangnya kemampuan berpikir kritis akan menghasilkan pendapat, opini dan sikap parsial bahkan seringkali memunculkan komentar-komentar tidak cerdas yang (salah satunya) banyak kita temui di Facebook wall. Andai saja mereka yang menuliskan komentar-komentar tersebut mau berpikir kritis dan meluangkan waktu sedikit saja untuk mendapatkan second opinion pasti akan menghasilkan komentar yang cerdas.

Apakah opini anda dikendalikan oleh media masa ataukah anda yang mengelola berbagai berita untuk membuat opini yang independen dan berimbang?

Sumber: http://irawanah.wordpress.com/2013/01/23/hubungan-stimulus-response-dan-hubungan-news-opinion/

—o0o—

Pelajaran yang Sulit untuk Diajarkan

Syarif Rousyan Fikri

Hikmah adalah ilmu tertinggi, sulit untuk diajarkan.

Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah perceraian? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah kebangkrutan? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah ketidaklulusan? Siapa bisa melihat sisi positif dari sebuah penolakan?

Satu. Lalu,

Pernahkah rasanya ada yang kurang, sekalipun kita berkecukupan? Pernahkah rasanya masih belum puas meskipun kita sudah menjadi yang terbaik? Pernahkah ada keluhan, meskipun semuanya serba nyaman dan penuh keberuntungan?

Nilai Sebuah Kejadian

Pada hakikatnya, setiap kejadian itu netral, tidak ada nilainya. Yang membuat sebuah kejadian menjadi baik atau buruk, benar atau salah, adalah mindset dan value yang kita anut. Ketika kita memiliki kerangka berpikir bahwa musibah selalu negatif, maka kita akan fokus kepada efek negatif dari suatu musibah. Dan tentunya ketika kita dapat memberikan nilai negatif kepada suatu kejadian, artinya kita memiliki informasi pendukung mengenai nilai negatif dari suatu kejadian.

Sebagai contoh, waktu kecil kita banyak mencoba berbagai hal. Sekali waktu, kita mencoba untuk memecahkan gelas. Ketika itu memecahkan gelas merupakan hal yang netral, kita belum memiliki pandangan dan memberikan value kepada aktivitas tersebut. Setelah gelas pecah, bisa jadi orang tua kita memarahi kita. Dari situ, kita mulai mendapatkan informasi dari luar bahwa memecahkan gelas adalah tindakan buruk. Namun, mendapatkan informasi ini bukan berarti menghentikan kita dari memecahkan gelas. Kita masih ingin memecahkan gelas untuk satu kali lagi. Gelas pun pecah kembali. Bedanya, kali ini pecahan belingnya mengenai telapak kaki kita. Hasilnya, kita berdarah dan merasakan sakit. Dari situ, akhirnya kita menyadari bahwa memecahkan gelas itu tindakan negatif yang membahayakan dan merugikan.

Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan kita pun terasah. Kita mulai dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain terkait suatu hal. Empati pun mulai terbentuk. Empati ini yang dapat membuat kita turut bersedih ketika orang lain sedih. Sebagai contoh, seorang adik ikut menangis ketika kakaknya dimarahi oleh bapaknya. Munculnya empati ini juga membuat kita menjadi lebih gampang menerima informasi dari luar dan memasukkannya ke dalam value kita. Sehingga, ketika ada seseorang yang menangis, bisa saja kita menganggap orang tersebut adalah pihak yang tersakiti. Kita bisa saja menganggap seseorang yang sebenarnya salah sebagai orang yang benar karena kita berempati.

Dari kumpulan informasi dan empati inilah pola pikir, sudut pandang, serta nilai kita terbentuk. Kemudian dari sini, kita akan dapat memberikan “label” atau “nilai” terhadap segala kejadian yang menimpa kita. Ya, begitulah cara kita memandang dunia. Karena kita tak punya sudut pandang yang komprehensif atas segala sesuatu, kita hanya bisa menilainya secara parsial, sesuai dengan mindset serta value yang kita anut. Kamera kita hanya sebatas itu.

Kebijaksanaan

Nah, di dunia ini, konon ada yang disebut kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini dimaknai sebagai menggunakan akal budi guna menilai sesuatu dengan lebih cermat. Kebijaksanaan adalah sesuatu yang membuat kita dapat melihat lebih komprehensif dan memiliki kamera yang lebih banyak dalam memandang kejadian yang ada pada hidup.

Sekarang, manusia mana sih yang tidak ingin bahagia? Semua manusia mengejar kebahagiaan, semua orang mengejar senyuman. Sepertinya tidak ada manusia berakal yang bangun dari tidurnya lalu berharap hari ini ia akan menjumpai kesedihan, kegelisahan, dan perasaan negatif lainnya. Perasaan negatif ini sendiri terbentuk dari pikiran-pikiran negatif. Pikiran negatif adalah proses pemaknaan negatif adalah suatu kejadian.

Sebaliknya, untuk dapat menjadi bahagia, seseorang harus selalu bisa mengisi perasaan dan pikirannya dengan hal-hal positif, untuk semua kejadian yang ia alami. Semua. Ya, ternyata hanya itulah satu-satunya cara untuk menang melawan hidup. Kita harus bahagia. Kita harus dapat mengambil sisi positif dari segala sesuatu. Sekalipun selama ini informasi yang kita dapatkan menyatakan bahwa sesuatu itu negatif, kelak ketika kita mengalaminya, kita harus bisa memaknainya dengan positif. Tentu saja keharusan itu menjadi ada ketika kita ingin mengejar kebahagiaan.

Namun, sekarang permasalahannya adalah, bisakah kita mengajarkan kebijaksanaan kepada orang lain? Bisakah kita mengajarkan hikmah yang kita peroleh kepada orang lain? Bahkan kalau di contoh anak memecahkan gelas tadi, si anak baru sadar setelah merasakan efek negatifnya. Itu kebetulan si anak sadar loh, bisa saja si anak tetap mencoba lagi meskipun gelas tadi sudah nyata-nyata melukainya.

Kebijaksanaan adalah ilmu hati. Dia tidak bisa diajarkan dengan matematika saja. Dia datang dari apa yang disebut hati nurani. Sekeras apapun kita belajar mengenai kebijaksanaan, jika hati kita tidak terbuka, maka kita tidak akan memperolehnya. Mungkin itulah kenapa hati disebut sebagai jendela penghubung antara Tuhan dan hamba. Di situlah Tuhan berikan secercah cahaya agar manusia dapat melihat dari sisi lain, dari sudut pandang yang lebih komprehensif, menyibak tabir rencana Tuhan.

Ah, entahlah,

kebijaksanaan buat saya masih menjadi sebuah misteri. Dia adalah misteri dibalik kalimat-kalimat klise yang sehari-hari kita dengar. Dan dari apa yang saya rasakan, kita sedang memiliki kebijaksanaan apabila kita dapat memaknai kalimat-kalimat klise itu sebagai sebuah realitas yang nyata. Karena ketika kita memaknainya sebagai realitas, artinya kita dapat mengakses kamera dari sudut pandang orang-orang yang mengatakan kalimat klise tersebut.

“Happiness is real only when shared”

Sumber: http://rousyan.wordpress.com/2012/03/17/pelajaran-yang-sulit-untuk-diajarkan/

—o0o—

Informasi tentang pengembangan SDM, dll., di sini.

—o0o—

About karuniasemesta

Kelompok Karunia Semesta (KKS) merupakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan motto: "Saling berbagi membangun hidup bermartabat." Kelompok ini memberi pelayanan: konsultasi, mentoring, pendampingan & coaching/pelatihan. Kegiatan rutin yang dikerjakan antara lain memberi pelayanan sosial, konsultasi, pendampingan dan mentoring kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan untuk menyelesaikan permasalah sosial, ekonomi. pendidikan, kesehatan, dll. Di samping itu, KKS juga memberi coaching/pelatihan pengembangan sumber daya manusia, a.l. Pelatihan Shifting Character for Success, Menjadi Pemimpin yang Tangguh, Self Empower, Pelatihan Teamwork Berkinerja Prima, dan Pelatihan Soft-skills: inisiatif, inovasi, decision making, problem solving, manajemen waktu, pendelegasian, resolusi konflik, manajemen teamwork, PDCA/ PDSA, strategic planning, dll. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kantor Pusat: Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663 e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id. Kontak: Dwiatmo Kartiko Dwiatmo Kartiko lahir di Blora pada 30 Mei 1963. Masa kecil hingga menyelesaikan SMA dijalani di kota kecil di Jawa Tengah tersebut. Pada tahun 1986, menyelesaikan pendidikan S-1 Geografi di Univ. Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah lulus, sempat mengajar di Univ. Kristen Satya Wacana, Salatiga, selama 3 (tiga) semester, hingga pertengahan tahun 1988. Setelah itu, kegiatan sehari-harinya dihabiskan dengan menggeluti dunia LSM yang berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan lingkungan, baik di LSM lokal maupun LSM Internasional, mulai dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta, WALHI Yogyakarta, PELKESI dan diteruskan masuk menjadi staf PLAN Internasional Indonesia. Mulai tahun 2000, dunia usaha menjadi impian hidupnya, sambil masih terus terlibat di dalam dunia pemberdayaan SDM. Itulah sebabnya, sejak tahun 2006 pengembangan SDM menjadi fokus aktivitas sehari-harinya, dengan menjadi fasilitator pemberdayaan SDM secara individual dan kelompok, baik itu organisasi atau perusahaan. Saat ini bersama isteri dengan dua anak, tinggal di Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Bisa dikontak via Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667; 08886829663; e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
This entry was posted in Paper and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s