Mematikan Ego Cuma Butuh Niat

 

Konon di dalam diri kita bersemayam 2 (dua) pribadi kembar, tetapi berbeda perangai. Namanya “sang Ego,” atau disebut juga “sang Aku,” dan “sang Diri.” Keduanya sama-sama ingin menguasai kehidupan kita masing-masing dari waktu ke waktu.

Dikisahkan juga bahwa agar kita bisa sukses yang luar biasa, bahkan bisa sukses hingga melampaui dimensi ruang dan waktu, atau istilahnya memasuki dunia kekekalan, maka satu-satunya cara hanyalah kita harus bisa mematikan “sang Ego” dan memberi kesempatan kepada “sang Diri” untuk senantiasa menguasai hidup kita.

Waktu saya masih muda, saya pikir kisah ini hanya dongeng untuk anak-anak kecil saat mau tidur agar tidak cengeng. Namun, ternyata cerita ini sesungguhnya merupakan kisah tentang kebijaksanaan yang ingin ditanamkan oleh kaum cerdik pandai, pada jaman dahulu, kepada anak-anak mereka agar kelak anak-anak mereka bisa menatap hari esok dengan menjadi manusia yang luar biasa. Sehingga spesies manusia tidak punah dari permukaan bumi ini sebelum saat hari kiamat, seperti nasib dinosaurus.

Kisah tentang “sang Ego,” atau “sang Aku,” dengan “sang Diri” ini bervariasi dan bisa panjang sekali ceritanya. Untuk mempersingkat cerita, tetapi dengan konten yang masih utuh, berikut telah dicopas 3 (tiga) tulisan yang akan memperjelas hal-hal tersebut, termasuk langlah-langkah yang mudah tentang cara mematikan “sang Ego” atau “sang Aku.” Ketiga tulisan tersebut yaitu:

  1. Sang Ego, Masihkah Ia Menakhodai Dirimu? Oleh: Sigit Suyono.
  2. Konsep Syehk Siti Jenar: Merasakan Kematian Sebelum Mati. Oleh: Abu Fajar Al Qalami.
  3. Mematikan “AKU.” Oleh: Pandu.

Selamat membaca, mengaplikasikannya dan, selanjutnya, sukses luar biasa.

ego2
1. Sang Ego, Masihkah Ia Menakhodai Dirimu?

Oleh: Sigit Suyono

Hubungan yang terjalin selama ini antara penulis dengan teman-teman seperjalanan di paguyuban Anand Krishna Center rupanya memberikan pelajaran yang berarti kepada si penulis mengenai berbagai pandangan dan konsep mengenai cara maupun praktik nyata dalam mengendalikan ego pribadinya.

Diskusi yang rutin diadakan di Anand Krishna Center Solo, memberikan arti yang mendalam. Terutama peran para senior dalam memberikan contoh nyata tentang kerendahan hatinya, mengusik kesadarannya untuk menulis.

Berikut si penulis sedang menasehati dirinya …

Keakuan atau perasaan merasa yang paling baik, paling pintar, paling tampan, paling tua, paling berpengalaman, paling kaya, paling super, paling bijak, paling berpengetahuan adalah sesuatu gejala yang sering kita jumpai dalam keseharian hidup. Dan pertanyaanya adalah, masihkah perasaan-perasaan seperti itu kerap muncul dalam dirimu? Hidup di antara mereka yang berseberangan pendapat denganmu, hidup di antara mereka yang kau anggap berada di luar garis kebenaran yang kau pahami selama ini, di antara mereka jauh dari kebenaran dan terselimuti alam ketidaksadaran apa yang kau rasakan, apa yang kau pikirkan?

Sepertinya kau membuat batasan agar sesuatu yang kau anggap baik haruslah selalu eksis dalam pandanganmu, lalu kau akan bela mati-matian sampai tidak tersisa ruang bagi orang lain untuk mengenali dirinya sendiri, baikkah itu? Bila bertemu dengan orang lain yang berbeda pendapat denganmu masih seringkah kau berdebat? Mempertahankan pendapat yang kau anggap benar sesuai pendapatmu? Masihkah kau ngotot? Seringkah kau merasa yang paling lebih tahu, masih seringkah kau menyerang lawan bicaramu? Masihkah kau sering merasa direndahkan? Martabatmu terasa diinjak-injak dan kau berontak? Terlalu seringkah kau marah, meratapi nasib meratapi hidup yang kau anggap kemalangan?

Dan di sisi lain timbul perasaan kesepian, ingin dihormati, ingin dipuji dan selalu tampil terdepan memimpin barisan. Keinginan yang menggebu-ngebu untuk tampil di atas rata-rata? Sehingga terlupakan olehmu bahwa kau telah membuat garis pemisah yang radikal antara keberadaanmu dengan masyarakat dan lingkungan sekitarmu. Terlihat kau mulai menarik diri dari dunia keramaian, hal itu sah-sah saja manakala hal itu mampu meningkatkan kesadaranmu dan kwalitas kebahagiaanmu? Tapi benarkah hal itu cukup? Dan mampu menyelesaikan masalah-masalah utama dalam hidupmu? Bila jawabanya ya aku salut padamu, bila tidak mengapa hal itu sampai sekarang masih kau lakukan? Bukankah hal itu justru menciptakan konflik di dalam dirimu, dan membuatmu semakin jauh dari kewajaran. Perasaan alami yang ingin dimiliki oleh setiap orang sebagai bagian dari anggota masyarakat, sebagai makluk sosial. Jangan biarkan perasaan yang sama mencengkrammu terlalu lama!

Sebagai manusia bukankah kita menginginkan kebahagiaan? Berharap agar setiap hasrat kita menjelma menjadi nyata, menjadi manusia yang peduli dengan manusia yang lain, yang berguna bagi manusia lain? Bukankah selama ini kau mengejar pengetahuan, mengejar sesuatu yang mampu membebaskanmu dari belenggu ruang sempit yang selama ini mengungkungmu. Lalu untuk apa sekian banyak pengetahuan yang kau peroleh selama ini, apakah hanya untuk disimpan di bathok kepala saja? Apakah kau masih tidak sadar bahwa selama ini dirimu telah cukup banyak terbebani? Malah ingin kau tambah dengan buntalan- buntalan yang tidak perlu? Ya memang pengetahuan memang sangat penting tapi pada penerapan yang tidak pas justru akan menjadi boomerang bagi upaya kita untuk menggali kebahagiaan, meningkatkan kesadaran.

Keakuanmu, rasa angkuhmu sungguh tidak berdasar justru hal itu akan menjauhkanmu dari sukses. Bila ego masih saja menguasai dirimu justru akan menimbulkan banyak perselisihan, pertentangan dan friksi, menciptakan banyak jurang pemisah bagi laju pertumbuhan dirimu. Makin banyak pertentangan makin banyak perbedaan yang kau ciptakan akan mempersulit dan menghambat tujuan-tujuan baik yang kelak akan kau capai!

Pengetahuan yang kau peroleh selama ini harusnya kau bawa ke tengah pasar? Kau terapkan dalam keseharian hidupmu, kau praktikan dengan penuh kesadaran dan dedikasi? Kau uji sampai sejauh mana kesadaranmu mampu bergerak menjinakkan keliaran egomu. Berlatih dan berusahalah terus. Gunakan segenap energimu untuk mempertahankan kesadaran yang selama ini kau peroleh. Jangan lengah, selalulah waspada, mawas diri, koreksi diri, meneliti kelemahan diri, dan galilah potensi-potensi yang terbaik yang dapat kau kuasai, tempatkanlah mereka sebagai salah satu sarana memperoleh pencapaian sukses dalam ranah kesadaran.

Dengan sekian banyak pengalaman dan pengetahuan yang kau peroleh selama ini mampu kah menjadi pengendali yang handal yang mampu mengubah setiap kekurangan menjadi nilai lebih bagi dirimu. Beberapa hal utama yang mampu menjaga pilar kesadaranmu adalah pengendalian diri, namun hal itu akan semakin susah karena ego manusia, menjaga kesucian pikiran, namun hal itupun juga semakin sulit karena rasa kemelekatan dan keterikatan manusia. Rasa welas-asih atau kasih sayang sebagai langkah ketiga yang selama ini melindungi kesadaran manusia pun gugur oleh hawa nafsu. Tinggal satu hal di masa seperti sekarang ini yang bisa kita lakukan yaitu menjalin hubungan baik, pergaulan baik dengan mereka yang berbudi luhur dan menjunjung tinggi kebenaran.

Pergaulan dengan mereka yang berbudi luhur akan mampu menyeimbangkan energy kita, dengan pergaulan baik, kita akan dapat memperoleh sesuatu yang dapat menutupi segala kekurangan kita, menjaga keseimbangan diri kita. Hingga sedikit demi sedikit kekuasaan sang ego akan terkikis dan tergantikan dengan kesadaran. Namun bergaul dengan mereka yang berbudi luhur memang tidak mudah, karena hubungan-hubungan dengan mereka bukanlah hubungan yang mengikat kita, justru hubungan itu akan membebaskan kita.

Terbiasa dengan hubungan yang membebaskan akan menjadikan kita manusia bebas. Manusia yang hidup di dunia tanpa beban, menatap setiap kehidupan dengan kejernihan pandangan., keluasan cakrawala. Hingga mampu mengubah setiap keadaan menjadi moment yang indah dalam pengabdian. Tanpa terkungkung oleh beban ego.

Terimakasih Guru, kesadaran ini berkah darimu.

ego2-drhannan
2. Konsep Syehk Siti Jenar: Merasakan Kematian Sebelum Mati

Oleh: Abu Fajar Al Qalami

Hukum kebiasaan yang menjerat fikiran dan angan-angan bagaimana seseorang menyikapi kematian? Secara awam kematian merupakan suatu peristiwa yang sangat ditakuti, meskipun itu tidak dapat dihindari. Ketakutan tersebut karena mental (fikiran dan angan angan) yang tidak sanggup membayangkan, karena mereka berfikir kalau kematian datang akan lenyap jiwa dan raganya, akan memisahkan dirinya dari apa yang dicintainya, seperti: keluarga, pangkat, jabatan, harta, dll., sehingga mereka merasa ngeri kalau mengingat kematian.

Berbeda dengan Konsep Siti Jenar/Konsep Sufi kengerian akan kematian itu sudah hilang, karena mereka telah berhasil melenyapkan/melepaskan mentalnya dari hukum kebiasaan; mereka telah menemukan keyakinan bahwa kematian merupakan proses dari perjalanan spiritual yang berkelanjutan. Karena mereka mempunyai tujuan setelah kematian maka perasaan akan takut kematian sudah sirna. Tujuan mereka adalah bertemu Tuhan yang telah dirindukannya.

Kematian sebelum kematian artinya seseorang yang dapat mematikan Ego, Emosional, Nafsu, dan fikiran-fikiran yang menjerat untuk selamanya. Kematian Ego dapat membebaskan manusia, seorang dapat merasakan kelahiran kedua.

Kelahiran kedua tersebut membuka jalan baginya dalam menuju totalitas dan keabadian, karena kematian ego memungkinkan seorang untuk menempuh jalan Tuhannya. Potensi tersebut sebenarnya ada pada setiap diri manusia yaitu: kemampuan untuk keluar dari dunia yang penuh batasan. Tetapi kebanyakan manusia belum dapat memahami dan belum menemukanya karena kita masih dibatasi oleh fikiran dan budi, atau cipta dan karsa, yang sangat membatasi manusia. Jika seorang bisa terbebas dari itu semua maka akan terbuka cakrawala terhadap segala hal yang tak terbatas, yaitu keabadian yang hadir dalam kalbunya. Itulah yang disebut pengalaman batin yang bersifat pribadi. Tidak semua orang mampu melepaskan diri dari hukum kebiasaan.

Oleh karena Syehk Siti Jenar kurang bijak untuk membuka pengalaman spiritualnya kepada murid-muridnya, atau kepada wali Syariat karena persepsi yang tidak sama, maka Syehk Siti Jenar harus menerima konsekwensi dengan hukuman mati.

Syehk Khaled Bentounes (tokoh sufi) mengatakan: Kita tidak boleh sembrono untuk membicarakan pengalaman batin kita pada sesama kita yang masih hidup dalam batasan-batasan, konsekwensinya kita harus berfikir dan berbicara dalam dua bahasa dan dua fikiran yang berbeda. Artinya pada orang yang pada tahapan sama kita dapat berdialog tentang hal itu, karena mereka ada dalam gelombang atau channel yang sama, tetapi jangan sekali-kali berdialog dengan orang orang yang belum mencapai kondisi batin tersebut karena hal itu dapat mengacaukan atau membingungkan jalan fikiran mereka.

Syehk Khaled Bentounes selanjutnya mengatakan: Kondisi ma’rifat sungguh-sungguh memang ada dan tidak ada penjelasan secara rasional. Masing-masing orang yang mengalami kodisinya juga berbeda tergantung pada penyerapan dan kedalaman untuk memahaminya. Sedangkan untuk mencapai hal tersebut seseorang yang menempuh jalan ma’rifat sebelumnya harus dapat mematikan Ego kemanusiannya, dengan cara menjalankan amalan-amalan, atau latihan, yang bertujuan untuk menyatukan perasaan dan keinginannya hanya kepada Tuhannya atau di sebut dengan IRADAH. Dari amalan tersebut maka akan timbul kerinduan dalam hati, hakikatnya adalah perwujudan dari kebangkitan hati dalam pencarian Tuhan.

Pengalaman batin tentang Iradah juga dialami Siti Jenar. Siti Jenar senantiasa dalam kegelisahan karena rasa rindu dan cintanya kepada Tuhan yang begitu besar, ia berusaha melenyapkan sifat yang terikat dengan hukum kebiasaan sampai-sampai ia menganggap dirinya sendiri tiada berarti.

“Saya ini bukan Budi, Bukan angan-angan hati, bukan fikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, bukan kekosongan, bukan kehampaan, wujud saya ini adalah Jasad yang akhirnya mati menjadi jenasah, busuk bercampur tanah, dan debu, nafas saya mengelilingi dunia, tanah, air, api dan udara kembali ke tempat asalnya, sebab semua barang baru, bukan asli maka saya ini dzat yang sejiwa menyukma dalam Hyang Widi, Pangeran saya bersifat Jalal dan Jamal (Maha Mulia dan maha Indah) ia tidak mau sholat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintahkan untuk sholat kepada siapapun.“

Sabda Rosululloh Muhammad SAW: “Rasakan Kematian sebelum datang kematian.“

Ego-Knowledge-ygoel.com_
3. Mematikan “AKU”

  • Ketika kamu dilupakan, ditelantarkan atau sengaja tidak diperhatikan,… dan kamu tidak merasa terluka atas perlakuan itu,…  Maka itulah “AKU” yang mati.
  • Ketika kebaikanmu diceritakan sebagai kejelekan,… dan kamu tidak mengizinkan amarah timbul dalam hatimu dan menerimanya dengan sabar dan tenang,… Maka itulah “AKU” yang mati.
  • Ketika kamu puas dengan makanan yang ada, tempat tinggal dan keluarga yang ada dan mensyukuri itu sebagai anugerah TUHAN,… Maka itulah “AKU” yang mati.
  • Ketika kamu bersabar dalam ketidakpastian, tidak mengerti akan jalan Tuhan,… namun tetap bertahan dan setia mengikut Tuhan,… Maka itulah “AKU” yang mati.
  • Ketika kamu melihat kebahagiaan dan keberhasilan orang lain tanpa rasa iri sedikitpun,… Maka itulah “AKU” yang mati.
  • Ketika kamu tidak mendengar namamu disebut sebagai orang yang berjasa dari orang yang selama ini kamu bantu,… dan kamu menghadapinya dengan senyuman,… Maka itulah “AKU” yang mati.
  • Ketika kamu mendapat kritik, atau bahkan kamu dicela/digosipkan sehingga namamu menjadi rusak dalam pertemananmu oleh karenanya,… dan kamu menghadapinya dengan tenang,… Maka itulah “AKU” yang mati.

Marilah kita sama-sama koreksi diri. Lihat sebuah biji tidak bisa menjadi sebuah pohon yang baru bila ia tidak mati dan tertanam di tanah. Setelah ia mati dan membusuk di tanah, maka barulah sebuah tunas baru bisa muncul.

Memang bukan hal mudah untuk mematikan hak, keinginan, kesombongan, dan ego kita. Namun hanya dengan cara itulah… Tuhan baru dapat memunculkan “harta” di dalam diri kita untuk membuat kita makin dewasa, sempurna, dan menjadi berkat bagi orang lain!

cheers,
Pandu

urlf
Sumber:
1. http://renungandiri3.wordpress.com/2011/01/06/sang-ego-masihkah-ia-menakhodai-dirimu/
2. http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/1849083-konsep-syehk-siti-jenar-merasakan/
3. http://kucoratcoret.blogspot.com/2012/02/mematikan-aku.html

-o0o-

Informasi tentang pengembangan SDM, dll., di sini.

—o0o—

About karuniasemesta

Kelompok Karunia Semesta (KKS) merupakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan motto: "Saling berbagi membangun hidup bermartabat." Kelompok ini memberi pelayanan: konsultasi, mentoring, pendampingan & coaching/pelatihan. Kegiatan rutin yang dikerjakan antara lain memberi pelayanan sosial, konsultasi, pendampingan dan mentoring kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan untuk menyelesaikan permasalah sosial, ekonomi. pendidikan, kesehatan, dll. Di samping itu, KKS juga memberi coaching/pelatihan pengembangan sumber daya manusia, a.l. Pelatihan Shifting Character for Success, Menjadi Pemimpin yang Tangguh, Self Empower, Pelatihan Teamwork Berkinerja Prima, dan Pelatihan Soft-skills: inisiatif, inovasi, decision making, problem solving, manajemen waktu, pendelegasian, resolusi konflik, manajemen teamwork, PDCA/ PDSA, strategic planning, dll. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kantor Pusat: Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663 e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id. Kontak: Dwiatmo Kartiko Dwiatmo Kartiko lahir di Blora pada 30 Mei 1963. Masa kecil hingga menyelesaikan SMA dijalani di kota kecil di Jawa Tengah tersebut. Pada tahun 1986, menyelesaikan pendidikan S-1 Geografi di Univ. Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah lulus, sempat mengajar di Univ. Kristen Satya Wacana, Salatiga, selama 3 (tiga) semester, hingga pertengahan tahun 1988. Setelah itu, kegiatan sehari-harinya dihabiskan dengan menggeluti dunia LSM yang berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan lingkungan, baik di LSM lokal maupun LSM Internasional, mulai dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta, WALHI Yogyakarta, PELKESI dan diteruskan masuk menjadi staf PLAN Internasional Indonesia. Mulai tahun 2000, dunia usaha menjadi impian hidupnya, sambil masih terus terlibat di dalam dunia pemberdayaan SDM. Itulah sebabnya, sejak tahun 2006 pengembangan SDM menjadi fokus aktivitas sehari-harinya, dengan menjadi fasilitator pemberdayaan SDM secara individual dan kelompok, baik itu organisasi atau perusahaan. Saat ini bersama isteri dengan dua anak, tinggal di Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Bisa dikontak via Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667; 08886829663; e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
This entry was posted in Paper and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s