Proses Transformasi Menjadi Manusia Luar Biasa

Oleh: Dwiatmo Kartiko

Pada saat omong-omong dengan beberapa teman dalam suatu pertemuan informal, saya (penulis) diberi kesempatan untuk bicara tentang bagaimana cara bersyukur. Untuk mempersingkat dan mempermudah pembicaraan, saya menyodorkan kuesioner tentang kondisi pikiran/perasaan mereka masing-masing. (Kuesioner bisa dibaca di ‘Sudahkah Bpk/Ibu/Sdr Menjadi Magnet Sukses?‘).

Pada saat itu juga hasil pengisian kuesioner kami bahas. Dari hasil pembahasan sebagian besar teman tahu bahwa skore mereka masih belum memuaskan. Mereka terindikasi kurang bersyukur. Akibatnya beberapa di antara mereka protes bahwa tidak akan mungkin ada orang yang bisa selalu bersyukur. Walaupun saya tahu bahwa protes mereka sebenarnya hanya excuses saja, tetapi demi menghormati mereka, saya diam saja. Toh, sesuai dengan hukum tabur-tuai, semua akibat dari orang-orang yang tidak mau bersyukur akan ditanggung sendiri oleh diri mereka masing-masing.

Beberapa saat setelah itu muncul ide untuk membuat tulisan tentang proses transformasi diri, hingga akhirnya tertuang di dalam tulisan ini, yang diberi judul “Proses Transformasi Menjadi Manusia Luar Biasa,” seperti judul yang tertulis di atas. Apakah tulisan ini ada kaitan dengan mengapa kita perlu selalu bersyukur? Ayolah kita lanjutkan menelusuri tulisan ini.

Kisah singkat transformasi diri Nabi Musa

Proses transformasi sudah banyak dialami oleh para pendahulu kita. Di antara mereka ada yang memperoleh nama kehormatan: Nabi, Rasul, Wali (bukan nama grup musik), Sunan, guru agama, pendeta, bhiksu, dll. Agar mudah bagi kita untuk memahami tulisan ini, kisah yang dipakai untuk menjadi cermin adalah kisah Nabi Musa, seorang Nabi yang mampu membuat banyak mukjizat, setelah berproses transformasi di padang gurun selama 40 tahun.

imagesMenurut Kitab Musa dan Injil (Alkitab), pada saat bangsa Israel menjadi budak di negeri Mesir, lahirlah Musa. Musa merupakan keturunan Israel yang diangkat anak oleh Firaun, raja Mesir (Kel 2:10). Setelah menjadi besar, Musa merasa prihatin dengan bangsanya yang semuanya menjadi budak di negeri itu. Padahal menurut para leluhur mereka, bangsa Israel mempunyai negeri yang penuh dengan berbagai pengharapan, yang bernama: negeri Kana’an.

Dia merasa terpanggil, atau punya mimpi, ingin menolong bangsanya agar bisa terbebas dari negeri perbudakan berpindah menuju ke negeri kebebasan. Hingga, di luar kendalinya, dia membunuh orang Mesir (Kel 2:12). Saat Firaun tahu tindakannya dan mau membunuhnya, Musa berkecil hati, ketakutan, terus melarikan diri ke padang gurun (Kel 2:15). Di padang gurun Musa berproses selama 40 tahun (Kis 7:30).

Setelah itu, Musa kembali ke Mesir dengan kemampuan yang luar biasa, dia mampu membuat banyak mukjizat (Kel 4:17). Hingga akhirnya Musa berhasil membawa bangsanya keluar dari Mesir (Kel 12:17-22). Dari negeri perbudakan menuju ke tanah perjanjian. Dari tempat yang tidak kondusif menuju ke dunia baru yang penuh dengan berbagai kemungkinan.

Untuk menjadi luar biasa perlu transformasi

Dari kisah Musa tersebut, tampak jelas bahwa agar kita bisa menjadi manusia yang luar biasa perlu mengalami transformasi diri terlebih dahulu. Musa sebelum mengalami transformasi diri, lagaknya seperti jagoan, hingga dengan tangannya sendiri berani membunuh orang Mesir. Tetapi saat dirinya dicari Firaun untuk dibunuh, Musa lari terbirit-birit bersembunyi ke padang gurun. Hanya lagaknya saja sebagai jagoan, tetapi nyalinya cuma pecundang.

Namun, setelah dia mengalami transformasi diri, dia mengalami perubahan emosi, ego, akal pikir, dll., dan disertai kemampuan membuat berbagai mukjizat. Dia tidak lagi menjadi jagoan, tetapi bertindak sebagai leader: do the right thing. Orientasi dan fokusnya diarahkan kepada solusi untuk bangsanya, atau untuk kebaikan banyak orang, bukan lagi hanya pada dirinya sendiri yang ingin tampil sebagai jagoan, ingin menang sendiri. Dia mau mengadakan negosiasi berkali-kali dengan Firaun saat berusaha mengajak exodus seluruh bangsanya, hingga berhasil.

VP_1_1Itulah inti dari transformasi diri, yaitu suatu proses yang terus-menerus dan berulang-ulang yang perlu kita lakukan, agar dapat menjadikan kita bermetamorfose dari manusia biasa: yang penuh dengan kelemahan, egoisme, ambisius, dll., berubah menjadi manusia dengan kemampuan luar biasa yang berorientasi pada kebaikan dunia secara menyeluruh.

Proses ini diperlukan oleh siapa saja. Semua orang sebenarnya bisa menjadi manusia dengan kemampuan yang luar biasa seperti itu. Mengingat di dalam diri semua manusia ada kekuatan yang luar biasa (unlimited power). Seperti yang bisa dibaca di tulisan: “Ada God Spot di diri kita masing-masing.”

rmur_J4hg7jLigofIke33pAJ8rIkYq7rD7dZzvSpgedZet9M7LBWxRmkoNJ_ue62kpk=w300Unlimited power (kekuatan tanpa batas) dapat memberdayakan manusia menjadi luar biasa, tidak hanya sekedar hidup seperti binatang buas yang pekerjaannya cuma makan, tidur, berhubungan seks, serakah (mengejar kepuasan birahi, harta dan jabatan), egois, saling memangsa, dst., tetapi bisa menjadikan manusia mampu berperan untuk memayu hayuning bawono, atau mempercantik dunia yang cantik, atau membangun dunia agar lebih baik dan lebih kondusif layak untuk kehidupan semua makhluk hidup secara berkelanjutan. Seseorang yang mempunyai kemampuan memayu hayuning bawono disebut juga sebagai manusia dengan laku utama.

Apakah kita harus transformasi diri?

Semua orang, yang akal pikirannya masih waras, selalu mendambakan bisa menjalani hidup bahagia di dunia dan di akherat. Mereka ingin bisa hidup damai dan sejahtera di dunia, dan setelah mati bisa masuk sorga. Hingga ada T-shirt yang ditulisi:tshirt

“Waktu muda foya-foya,
setelah tua kaya raya,
punya isteri cantik dan setia,
waktu mati masuk sorga.”

Mimpi seperti itulah yang dikejar-kejar oleh banyak orang yang berusaha memaknai kehidupan. Sudah banyak cara dilakukan oleh manusia untuk meraih impian mereka, tetapi hanya sedikit orang yang berhasil menggapainya. Lebih banyak orang yang belum berhasil, bila dibandingkan dengan jumlah mereka yang berhasil menemukan makna hidupnya. Banyak orang yang merasa hidupnya sudah sukses, namun tahu-tahu menemui masalah yang justru kebalikannya, seakan-akan terbentur tembok tebal yang tidak bisa ditembus. Bahkan ada yang hidupnya cuma sia-sia, mau melakukan ini tidak mampu, mau melakukan itu tidak bisa, dll.

Sejauh sepengetahuan penulis, yang saat ini berusia 50 tahun lebih sedikit, setelah pergi kesana-kemari, berulang-ulang membalik-balik buku di perpustakaan, dan menghadapi kebelum-berhasilan sampai jeleh untuk menemukan jawaban bagaimana manusia bisa berhasil secara utuh (holistik), jawaban yang ditemukan hanyalah satu yang valid, dan jawaban ini hanya satu-satunya, yaitu: transformasi diri. Hanya jika kita mau transformasi diri, atau mau menjadi manusia dengan laku utama, yaitu seseorang yang tahu, mau dan mampu memayu hayuning bawono yang akan berhasil secara utuh. Tidak ada formula lain yang ces-pleng.

Jadi, yang membedakan antara orang-orang yang hidupnya cuma sia-sia vs orang-orang yang berhasil dalam hal apa saja, hanyalah: tidak mau melakukan vs mau melakukan transformasi diri. Mereka yang telah sukses secara holistik, yang selalu disertai karakter manusia dengan laku utama, semuanya telah melakukan transformasi diri sebelum bekerja.

Kalau kita perhatikan tokoh-tokoh yang layak menjadi panutan, selain para Nabi dan Rasul, semuanya juga telah mengalami transformasi diri sebelum berkarya. Contoh yang pernah ditulis di web ini yaitu kisah Sunan Kalijaga dalam tulisan yang berjudul: “Jalan Sunan Kalijaga Mencari Guru Sejati.”  Ada juga tokoh-tokoh lain yang pernah ditulis oleh penulis lain, antara lain Biografi Mahatma Gandhi, Sejarah Mahapatih Gadjah Mada, Kisah Panembahan Senapati, dll.

Sunan_Kalijagaurlrurlfgsultan_agung_mataram1

Tentang transformasi diri itu sendiri sebenarnya mempunyai sebutan yang bermacam-macam. Menurut Kitab Injil, transformasi diri bisa disamakan dengan:

  • “menjalani hidup baru” (Rom 6:4),
  • “hidup secara roh” (Rom 8:13),
  • “lahir kembali” (Yoh 3:3),
  • “menjadi manusia baru” (Kol 3:10),
  • “menjadi ciptaan baru” (2 Kor 5:17),
  • dll.

Bagaimana kita berproses?

Bagi siapa saja yang ingin mempraktekkan transformasi diri, sebagai upaya untuk menjadi manusia yang luar biasa, berikut gambaran alur proses yang sederhana yang mudah difahami.

Sejalan dengan kisah Nabi Musa dan tokoh-tokoh panutan yang telah melakukan transformasi diri, Proses Transformasi Menjadi Manusia Luar Biasa dapat digambarkan sbb.: (lihat gambar) Proses Transformasi-page-001

Penjelasan gambar:

Sebagai Manusia Biasa (1), kita semua bisa menjadi Manusia Luar Biasa (7) setelah mengalami Transformasi Diri (6). Kita bisa mengalami Transformasi Diri (6) setelah mau melakukan 3 (tiga) hal yang disebut Reformasi internal, yaitu: Pencarian Diri (3), Penyangkalan Diri (4), dan Pengendalian Diri (5), secara terus-menerus dan berulang-ulang. Pada orang-orang tertentu, reformasi internal ini harus didahului dengan Terbentur Tembok Tebal (2).

Bisa digambarkan bahwa Proses Transformasi Menjadi Manusia Luar Biasa terdiri dari:
1. Manusia Biasa
2. Terbentur Tembok Tebal
3. Pencarian Diri
4. Penyangkalan Diri
5. Pengendalian Diri
6. Transformasi Diri
7. Manusia Luar Biasa

Uraian singkat tahapan-tahapan proses:

1. Manusia Biasa

Yang dianggap sebagai manusia biasa di sini adalah siapa saja yang belum pernah melakukan reformasi internal (yaitu: pencarian diri (3), penyangkalan diri (4), dan terutama pengendalian diri (5)). Entah itu belum pernah sama sekali, atau sudah mencoba melakukannya tetapi belum sampai tuntas tas tas. Dalam istilah getaran elektromagnetik, manusia biasa ini bisa dikatakan sebagai seseorang yang hidup dengan magnet seadanya dan cenderung hidup dengan magnet negatip. Perhatikan tabel di bawah ini.

Yang dimaksud dengan manusia biasa adalah seseorang yang mempunyai kebiasaan atau karakter seperti yang tertulis di kolom 1 (sebelah kiri). Sedangkan kolom 2 (sebelah kanan) adalah kebiasaan atau karakter manusia yang sudah mengalami transformasi diri. Tabel ini bisa juga dibaca di “Karakter Baru untuk Hidup Sukses.”

Tabel TRANSFORMASI  KARAKTER1-page-001

2. Terbentur Tembok Tebal

Tidak semua orang mengalami tahapan/proses terbentur tembok tebal ini. Namun tidak sedikit orang yang mengaku telah mengalami hal seperti ini. Yang dimaksud dengan terbentur tembok tebal yaitu bila dalam perjalanan hidup seseorang, tanpa diperkirakan sebelumnya, ternyata dia menemukan masalah yang sangat berat, parah, seperti hampir meninggal dunia. Atau ada juga yang menghadapi suatu keadaan yang tidak enak hingga memaksa dirinya harus pasrah 100%, bahkan ada yang berguman: “Mati ya sudah tidak apa-apa, dari pada hidup ………. ” Bentuk kejadiannya banyak sekali, antara lain: kehilangan harta yang paling berharga, sakit keras yang tidak kunjung sembuh, merugi yang sangat banyak sekali, dll.

Kalau menengok kisah Nabi Musa, cerita di atas, yang dikatakan terbentur tembok tebal ini adalah saat Nabi Musa lari terbirit-birit ke padang gurun. Saat itu beliau benar-benar kehilangan semua yang dimilikinya. Tidak hanya kehilangan nyali dan harga diri sebagai anak (angkat) raja, tetapi juga semua fasilitas yang dia nikmati selama itu harus dia lepaskan: hidup sehari-hari dilayani dayang-dayang, makan makanan bergizi, tidur beralaskan kasur empuk berselimut tebal, mandi menggunakan sabun berparfum, dll. Ia harus rela menjalani hidup yang jauh berbeda, hidup ala kadarnya di padang gurun, hidup yang serba tidak kondusif: sulit air, panas terik, makanan terbatas, tidur kedinginan, dll.

Sering kali setelah terperangkap masuk ke dalam tahapan ini, sebagian orang tidak mendapat kesempatan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya, harus menghadap Sang Pencipta. Ibarat permainan olah raga dari Jepang: Benteng Takeshi, terkena diskualifikasi. Namun, orang-orang tertentu yang berani bertahan, dan mau mengadakan reformasi internal (pencarian diri (3), penyangkalan diri (4), dan pengendalian diri (5)) secara terus-menerus, semuanya bisa terangkat dari jebakan ini dan mengalami hidup baru menjadi Manusia Luar Biasa (7).

3. Pencarian Diri

Traveller (1)Sebenarnya semua orang sejak lahir sudah mengalami proses yang dinamakan pencarian diri. Kalau bahasa gampangnya pencarian diri itu maksudnya ikut berproses di dalam pendidikan berkelanjutan, hingga mampu menjawab pertanyaan tentang hal-ikhwal siapa dirinya. Secara empiris, proses pendidikan menyangkut pendidikan formal, non-formal dan informal, mulai dari pendidikan di dalam kandungan, Paud/TK, SD, SLTP, SLTA, hingga PT, dan belajar mandiri. Semua proses belajar ini seharusnya dijalani dengan penuh kesadaran, ada kesungguhan dan intensif, sehingga seseorang mampu memahami siapakah dirinya, dan di dunia seperti apa manusia berada.

Namun, tidak atau belum semua dari kita mau mengikuti proses ini dengan sungguh-sungguh, penuh kesadaran dan intensif. Buktinya ada banyak kejadian penyimpangan dalam proses pendidikan kita, a.l.: soal ujian yang bocor, jual-beli nilai raport dan ujian, jual-beli ijazah, joki untuk ujian masuk PT, jual-beli nilai mata kuliah, jual-beli gelar akademik, dll. Pendidikan bukan lagi dihargai sebagai proses pencarian diri, tetapi hanya dianggap sebagai komoditas bisnis murahan yang menjanjikan, layaknya jual-beli sembako di pasar.

Jika seseorang berniat untuk meraih transformasi diri, atau ingin terbebas dari benturan tembok tebal (2), sebaiknya proses belajar ini dilakukan dengan penuh kesadaran, sungguh-sungguh dan intensif.

Yang dipelajari dalam pencarian diri ini berbagai macam ilmu, a.l. Fisika, Kimia, Matematika, Ekonomi, Psikologi, Geologi, Ilmu Lingkungan, dll. dan semua hal untuk mengasah nalar atau logika (IQ, Intelegent Quotient) agar lebih tajam. Pencarian diri cenderung mengutamakan exercises otak kiri. Ditambah sedikit rangsangan otak kanan, a.l. suka menikmati kesenian: musik, tari, lukis, dll. tetapi pada umumnya proses pencarian diri ini belum menjadikan seseorang mampu menggunakan perasaan secara paripurna. Pada orang-orang tertentu proses pencarian diri juga dilakukan dengan belajar ke tempat-tempat ibadah, bertemu dengan guru-guru agama, menjauhi keramaian, dll.

Proses pencarian diri pada tingkat yang paling dalam adalah saat seseorang ingin menemukan jawaban dari pertanyaan tentang: asal dan tujuan hidup manusia, hingga merasa terpanggil untuk ikut berperan dalam memayu hayuning bawono. Bila seseorang sudah terobsesi dengan kedua hal ini, biasanya proses belajar atau pencarian diri menjadi seperti candu, merasa ketagihan agar bisa memanfaatkan setiap detik waktu hidupnya untuk belajar. Dia merasa semakin banyak belajar justru semakin banyak yang tidak dia ketahui. Banyak misteri yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar saat mencoba menjawab pertanyaan tentang asal dan tujuan hidup manusia, serta cara untuk memayu hayuning bawono.

4. Penyangkalan Diri

Pada level terdalam saat pencarian diri, seseorang akan mengakui bahwa sebenarnya ada kekuatan luar biasa (unlimited power) di sekitar manusia yang mempengaruhi dan mengelola semua kehidupan, itulah yang disebut penyangkalan diri. Manusia ini tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa, tetapi manusia mempunyai peluang untuk akses kepada unlimited power tersebut, agar mempunyai kemampuan untuk menjalani hidup yang luar biasa.

0000000000000000000000004Di dunia ini hanya manusia yang mempunyai peluang seperti itu. Mahkluk-makhluk ciptaan lainnya (tetumbuhan dan binatang) tidak mempunyai peluang tersebut.

Ada banyak statement yang bisa untuk meneguhkan atau mengafirmasi pengakuan ini, a.l.:

  • Manusia yang berwujud ini tidak abadi, dan yang abadi adalah yang tidak berwujud;
  • Manusia hidup tidak hanya dengan roti saja;
  • Manusia itu hidup di dunia tetapi tidak dari dunia;
  • Seluruh hidupku adalah milik Mu;
  • Manusia itu roh yang terperangkap dalam kedagingan (tubuh), bukan daging (tubuh) yang berisi roh.

Digambarkan juga bahwa manusia hanyalah wayang, bukan dalang. Namun tidak sama persis antara manusia dan wayang. Beda manusia dengan wayang, kalau wayang hanya menjalankan skenario, sedangkan manusia sebenarnya diberi kesempatan untuk ikut terlibat dalam membuat skenario dalam konteks penyelamatan kehidupan. Hanya saja tidak semua orang menyadari akan hal ini. Bahkan ada orang yang tidak mengetahui atau menyadari dari sejak lahir hingga akhir hayatnya.

Mereka bisa seperti itu karena mereka belum/tidak tahu bahwa syarat agar bisa ikut terlibat dalam membuat skenario kehidupan adalah seseorang harus sudah mengalami transformasi diri (6). Unlimited power itu selalu ada bersama-sama manusia dimanapun dan kapanpun. Persoalannya adalah mereka yang belum transformasi diri (6) tidak akan mampu mengaksesnya. Ada tulisan yang bisa untuk menambah informasi tentang hal ini: ‘Pelatihan Sukses vs Peran Tuhan.’

Di dalam penyangkalan diri ini juga diyakini bahwa semua kesalahan manusia akan diampuni. Atau dengan kata lain, sejahat seperti apapun seseorang, dirinya masih punya kesempatan untuk ikut terlibat di dalam membuat skenario kehidupan. Keyakinan tentang adanya pengampunan dosa ini sudah diimani sejak jaman nabi-nabi. Kalau tidak ada pengampunan dosa, dunia akan semakin tidak kondusif, karena semua orang sudah berbuat dosa. Sejajar dengan keyakinan ini, kalau tidak ada pengampunan dosa, maka Nabi Musa tidak akan mungkin bisa melakukan berbagai mukjizat, mengingat sebelum memimpin bangsanya, dia pernah membunuh orang Mesir.

Apapun kondisi manusia bisa berubah menjadi manusia luar biasa (7). Di dalam Kitab Injil, Matius 12:20 ditulis “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Injil ini memahamkan kepada kita bahwa sejahat atau sejelek apapun keadaan hidup seseorang saat ini, masih ada kesempatan bagi dirinya untuk akses pada unlimited power.

Dalam penyangkalan diri ini manusia mulai menyadari kesalahan-kesalahannya dan sering kali memohon ampun kepada sesama dan Sang Pencipta, serta mulai memikirkan berbagai alternatif tindakan perubahan agar bisa berbuat baik dan benar kepada sesama dan Yang Kuasa. Proses yang dialami baru taraf memikirkan alternatif perubahan, belum melakukan perubahan. Kalau sudah melakukan perubahan agar hanya berbuat kebaikan dan kebenaran, dirinya sudah termasuk mampu mengendalikan diri (5).

MAAF+MEMAAFKANSalah satu bentuk niat baiknya adalah mereka mau mengampuni semua kesalahan sesamanya dengan tulus ikhlas, apapun itu kesalahan yang telah dilakukan oleh sesamanya. Entah sesamanya itu meminta atau tidak meminta maaf, kesalahan-kesalahan sesamanya, atau perbuatan-perbuatan sesamanya yang dianggap salah, akan selalu dia ampuni dengan tulus ikhlas.

Penyangkalan diri yang paling penting adalah adanya keyakinan bahwa apabila seseorang hidupnya tidak egois, mau memaafkan sesamanya, serta secara ikhlas selalu diisi dengan berbagai keinginan dan kegiatan untuk mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan bagi banyak orang, maka orang tersebut telah dianggap sama dengan orang-orang benar, atau orang-orang suci. Keyakinan ini didasarkan pada Kitab Injil yang tertulis di Roma 3:28 dan I Kor 13:2b.

  • Dalam Roma 3:28 ditulis “karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, . . .” dan
  • dalam I Kor 13:2b ditulis “ . . . Sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”

Manusia dibenarkan atau disucikan hanya karena yakin bahwa Sang Pencipta berkenan membenarkan atau mensucikan dirinya. Namun, bila keyakinan tersebut tidak disertai penerapan kasih, maka keyakinannya akan sia-sia. Yang disebut kasih adalah kasih kepada Sang Khalik dan kasih kepada sesama. Lha actions mengasihi sesama inilah yang wujudnya berbentuk mendatangkan suasana sorga di dunia agar bisa dirasakan oleh semua manusia, atau mewujudkan damai dan sejahtera bagi banyak orang,

5. Pengendalian Diri

Proses pengendalian diri ini merupakan tindakan yang sangat penting di dalam upaya transformasi diri. Proses ini akan menentukan apakah seseorang bisa transformasi diri atau tidak, dan apakah transformasi dirinya terus berkelanjutan atau cuma sebentar saja.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa hanya manusia yang mempunyai peluang untuk akses ke unlimited power. Ini disebabkan karena proses pengendalian diri hanya bisa terjadi pada diri manusia. Proses ini tidak bisa terjadi pada binatang, apalagi tetumbuhan. Karena tetumbuhan hidupnya hanya untuk bertumbuh, berkembang, berbunga dan berbuah, binatang hanya dibekali insting, sedangkan manusia dibekali: cipta, rasa, dan karsa (pikiran, perasaan dan kemauan/keinginan).

k1Pengendalian diri juga sering dikatakan sebagai perang melawan diri sendiri. Menurut para tokoh spiritual, perang melawan diri sendiri ini merupakan perang terbesar dalam perjalanan hidup manusia.

Apa saja yang harus dilawan saat perang melawan diri sendiri? Itulah pertanyaan yang penting. Ada banyak pendapat tentang hal ini, a.l. ada yang mengatakan yang dilawan adalah kebodohan batin yang masih melekat, meliputi: keserakahan, kesombongan, kebencian, dengki dan iri hati, kemarahan, kelicikan, keasusilaan, dll. Kalau menurut Masaru Emoto, yang perlu dilawan adalah semua emosi atau pikiran negatif yang dapat mencelakakan hidup manusia, yaitu: stress, khawatir, tersinggung, bingung, takut yg berlebihan, cemas, marah, apatis, tidak sabar, kesepian, sedih dan iri hati. Lihat tabel berikut. (Dicopy dari tabel di tulisan: “Menjadi Manusia Unggul“)

image002Banyak cara yang dilakukan oleh manusia untuk mengendalikan diri, tetapi intinya sama, yaitu: bagaimana seseorang bisa hidup dengan pasrah sumarah kepada Sang Khalik. Bisa juga dikatakan pengendalian diri sama dengan menghayati hidup dalam kepasrahan.

Hidup pasrah itu tidak sama dengan putus asa, atau mutung-an, atau hidup angin-anginan. Sesuai kodrad manusia yang dibekali dengan pikiran, perasaan dan kemauan/ keinginan, sebaiknya semua kegiatan kita selalu dimulai dengan mimpi atau keinginan yang mulia. Kalau menurut Stephen R. Covey kita perlu: begin with the end of mind (merujuk pada tujuan akhir). Kemudian kita perlu melakukan berbagai kegiatan dengan sungguh-sungguh agar bisa meraih mimpi-mimpi tersebut. Setelah kita berusaha dengan sepenuh hati, dan menghabiskan banyak waktu, tenaga, biaya, dll. apapun yang akan terjadi kita pasrahkan kepada Sang Khalik, dan kita siap menerima apapun hasilnya dengan pasrah, ikhlas, dan dengan penuh rasa syukur. Inilah yang disebut cara hidup pasrah.

Agar bisa menjalani hidup dalam kepasrahan seperti itu, banyak kegiatan yang biasa dilakukan, antara lain:

  • meditasi,
  • menerapkan catur sembah (sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa),
  • hidup mengikuti hukum tabur-tuai,
  • berpuasa,
  • melakukan kehendak-kehendak Sang Pencipta seperti yang tertulisa dalam Kitab Suci,
  • membuka atau mengaktivasi cakra muladhara, atau cakra dasar,
  • berusaha meninggalkan cara hidup lama (hidup negatip),
  • banyak meluangkan waktu untuk memohon pengampunan atas kesalahan-kesalahan kepada sesama dan Sang Pencipta,
  • memurnikan batin (rela, narima, sabar, konsentrasi, dan tapa),
  • menjalani hidup dengan penuh cinta kasih,
  • mempelajari dan menikmati kesenian (musik, tari, seni lukis dan kesenian yang lain) dengan penuh penghayatan dan perasaan, hingga mampu mencipta karya seni yang indah,
  • mengundang kehadiran Sang Pencipta berulang-ulang,
  • hidup dengan prinsip lillahi ta’alla (hanya untuk Tuhan semata),
  • menjalani hidup dengan sabar, syukur, ikhlas, pasrah, berdo’a dengan khusyuk, melepas ego, sering visualisasi dan afirmasi, mengasah intuisi, mengeliminir mental block, hidup untuk berbagi, bersedekah, memberi pelayanan, dll.,
  • mengasah emosi hanya untuk kebaikan, atau bisa juga dikatakan intensif dalam mempertajam EQ (Emotional Quotient). (Baca ‘14 Tanda Anda mempunyai Kecerdasan Emosional (EQ) bagus‘),
  • berusaha agar bisa selalu hanya berbuat baik (mulai membangun magnet positip),
  • dll.

Memang benar banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk pengendalian diri. Namun, ada cara gampang atau jalan pintas untuk pengendalian diri, seperti yang bisa dibaca di ‘Cara Gampang Aktualisasi Diri – Bergaransi.’ Di dalam tulisan tersebut disebutkan ada 5 (lima) ketrampilan/kebiasaan agar seseorang bisa mengalami transformasi diri, yaitu: 1. mampu selalu bersyukur; 2. mampu mengelola pikiran bawah sadar agar bisa selalu clean; 3. mampu akses intuisi; 4. bisa hidup tanpa mental block; serta 5. selalu ikhlas melayani dan berbagi bagi sesama dan lingkungannya. Lha, mungkin hidup dengan selalu bersyukur inilah yang menggerakkan pikiran penulis untuk membuat tulisan ini, seperti yang diceritakan di awal tulisan ini.

6. Transformasi Diri

Setelah seseorang melakukan reformasi internal: pencarian diri (3), penyangkalan diri (4), dan pengendalian diri (5), secara terus-menerus dan berulang-ulang, beberapa saat kemudian, secara tidak diduga dan dinyana, seringkali waktunya tidak bisa dipastikan, tetapi umumnya kurang dari 3 bulan, dia mulai merasakan telah mengalami transformasi diri. Rasanya seperti proses penyembuhan luka yang telah diobati dengan obat yang manjur, tak terasa tahu-tahu sudah sembuh, kembali normal. Transformasi diri merupakan akumulasi atau kumpulan tabungan dari reformasi internal, terutama pengendalian diri (5). Setahu kami, transformasi diri tidak pernah terjadi serta-merta, seperti kita makan nasi: selesai makan langsung kenyang. Tetapi ada jeda waktu beberapa hari atau beberapa minggu dari reformasi internal/pengendalian diri ke transformasi diri.

urlkyBiasanya transformasi diri dibarengi dengan perubahan karakter pada orang tersebut. Karena pencarian diri (3), penyangkalan diri (4), dan pengendalian diri (5), yang dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang akan terakumulasi, sehingga mampu merubah kebiasaan-kebiasaannya, dan selanjutnya dirinya mengalami perubahan karakter. (Lihat Tabel Transformasi Karakter, pada kolom 2 di depan.)

Ciri-ciri seseorang yang sudah mengalami transformasi diri a.l.:

  • merasa mulai dilimpahi keberuntungan yang silih berganti;
  • semua masalah yang dihadapi tahu-tahu menemukan solusi;
  • datangnya SQ (Spiritual Quotient), seperti mendapat bonus harta karun yang tidak terhingga, misalnya: ketika membutuhkan biaya untuk membayar sekolah anak, tahu-tahu mendapat uang dari sumber yang tidak disangka-sangka, dll. Harta ini jauh lebih besar dari pada gaji Dirut BUMN, atau gaji/penghasilan Presiden, atau hasil dari me-nggrogoti APBN (tetapi belum ketahuan KPK), atau harta-harta duniawi yang lainnya. Karena dengan datangnya SQ, seseorang mendapat jaminan hidup secara holistik, secara menyeluruh, menjadi manusia seutuhnya, meliputi: jasmani, rohani, intelektual, emosional, sosial, ekonomi, dll., dsb., tidak cuma kekayaan dan jabatan saja seperti yang diterima oleh Dirut BUMN, atau Presiden atau koruptor, dll. Miskin atau kaya tidak akan merisaukan orang ini. Kalau ada orang yang tulus mengatakan: “Miskin itu godaan, dan kaya itu juga godaan, hanya saja fokus godaanya yang berbeda,” maka itulah kata orang yang sudah dihampiri SQ. Juga orang ini merasa mempunyai kemampuan tambahan untuk mendeteksi orang-orang yang berniat baik dan orang yang jahat. (Silakan dibaca: ‘Hidup Secara Spiritual – Hidup Dengan SQ Tinggi‘);
  • cakra mata ketiga atau cakra ajna (cakra yang terletak di kening di antara kedua alis mata) terbuka. Dengan ciri utama dia mempunyai pewaskitaan (clairvoyance) atau tembus pandang, disertai kekuatan psikis lainnya. Pewaskitaan yang dimilikinya berupa kemampuan untuk memahami pengetahuan duniawi & pengetahuan surgawi (spiritual), serta pengetahuan tantang masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. (Silakan dibaca: ‘Hidup Secara Spiritual – Hidup Dengan SQ Tinggi‘);
  • kehadirannya sering kali mendatangkan mukjizat bagi orang lain (Silakan dibaca: : ‘Mukjizat itu ilmiah‘).

Semua itu bisa terjadi karena unlimited power mulai ikut bekerja di dalam diri orang tersebut, bahkan pada kondisi tertentu kekuatan tanpa batas ini mengambil alih semua kegiatannya. Oleh orang-orang lain yang sudah mengalami transformasi diri, orang tersebut dirasakan memancarkan getaran magnet positip yang kuat. Semakin intensif dirinya melakukan reformasi internal: pencarian diri (3), penyangkalan diri (4), dan pengendalian diri (5), maka magnet positip akan terakumulasi semakin besar. Bagaikan magnet yang bila berkekuatan kecil hanya mampu mengangkat paku, dan bila kekuatannya besar mampu mengangkat mobil, maka begitu juga dengan mereka yang sudah mengalami transformasi diri, semakin lama kemampuannya semakin besar hingga menjadi luar biasa.

Di samping itu, dengan unlimited power di dalam dirinya, ketika mati orang tersebut juga mendapat hadiah untuk bisa bangkit kembali, bagaikan bangun dari tidur yang lelap. Sehingga bisa dikatakan bahwa siapapun yang sudah bisa akses unlimited power bisa hidup di dua dunia: dunia kelihatan dan dunia yang tidak kelihatan, atau dunia jasmani dan dunia rohani, atau dunia kedagingan (tubuh) dan dunia roh.

7. Manusia Luar Biasa

Disebut manusia luar biasa karena seseorang yang telah mengalami transformasi diri mampu melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia pada umumnya. Seperti dalam cerita Nabi Musa di depan, dia bisa menyelesaikan berbagai masalah yang kecil-kecil hingga yang besar, dari skala pribadi hingga skala nasional dan internasional. Ini bisa terjadi karena dia telah mampu menembus masuk ke dalam dunia kuantum, suatu dunia baru yang penuh dengan segala kemungkinan. Suatu dunia yang tidak membedakan antara materi (yang kelihatan) dengan energi (yang tidak kelihatan), sehingga dia bisa merubah energi menjadi materi dan merubah materi menjadi energi. Atau istilah awamnya dia bisa membuat berbagai mukjizat.

aktualisasi-diri-1-638Dalam pemahaman kita saat ini, manusia luar biasa bisa disamakan dengan manusia yang sudah mampu aktualisasi diri. Menurut Maslow, aktualisasi diri dapat diartikan sebagai perkembangan kebutuhan manusia yang paling tinggi dan dapat menggunakan semua bakat, potensi, serta menggunakan semua kualitas dan kapasitas secara penuh.

Ditambahkan oleh Maslow, ciri-ciri atau sifat-sifat seseorang yang sudah mampu aktualisasi diri, a.l.:

  • berorientasi secara realistik;
  • penerimaan umum atas kodrat, orang-orang lain dan diri sendiri;
  • spontanitas, kesederhanaan, kewajaran;
  • memusatkan diri pada solusi, bukan pada masalah dan bukan pada diri sendiri;
  • memiliki kebutuhan akan privasi dan independensi;
  • berfungsi secara otonom terhadap lingkungan sosial dan fisik;
  • apresiasi yang senantiasa segar;
  • mengalami pengalaman-pengalaman puncak (peak experiences);
  • minat sosial;
  • hubungan antar-pribadi yang kuat;
  • struktur watak demokratis;
  • mampu mengintegrasikan sarana dan tujuan;
  • selera humor yang tidak menimbulkan permusuhan;
  • sangat kreatif; dan
  • mampu memilih norma-norma yang baik dan penting.

Dengan sifat-sifat atau karakter yang kuat seperti itulah yang bisa menjadikan seseorang hidup dengan laku utama. Maka dari itu sangat wajar bila seseorang yang sudah mengalami transformasi diri dan bisa aktualisasi diri mampu berperan dalam memayu hayuning bawono, atau mempercantik dunia yang cantik, atau membangun dunia agar lebih baik dan lebih kondusif layak untuk kehidupan semua makhluk hidup secara berkelanjutan.

Mereka yang sudah mampu aktualisasi diri umumnya selalu mendahulukan kesuksesan kolektif dari pada kesuksesan pribadi dirinya sendiri. Hal ini logis karena mereka memahami bahwa kebahagiaan, damai dan sejahtera di dunia ini tidak bisa diraih bila hanya perseorangan, karena semua hal tersebut bersifat kolektif, walaupun tidak dipungkiri bahwa kebahagiaan akhirat bersifat pribadi lepas pribadi. Namun, karena kebahagiaan akherat pada dirinya sudah dijamin oleh unlimited power, maka semua antusiasnya hanya difokuskan pada terciptanya dunia yang lebih baik dan lebih kondusif layak untuk kehidupan semua makhluk hidup secara berkelanjutan, atau seluruh hidupnya total hanya untuk memayu hayuning bawono.

socialmedia-600x600

Sekedar sharing

Secara pribadi kami telah membuktikan bahwa transformasi diri seperti tertulis di atas memang nyata bisa benar-benar terjadi, sudah kami buktikan sendiri dan dibuktikan oleh beberapa teman. Mereka yang sudah transformasi diri tampak jelas bisa mengalami perubahan karakter. Kuat-tidaknya perubahan karakter mereka berbanding lurus dengan durasi dan keseriusan mereka dalam melakukan reformasi internal.

Pada kesempatan yang lain, saat kami diajak oleh teman yang memiliki perusahaan untuk membantu dalam proses seleksi penerimaan tenaga baru, kami tidak menggunakan pedoman bibit, bobot, dan bebet, tetapi cukup mendeteksi apakah para calon pegawai sudah mengalami transformasi diri atau belum. Hasilnya, mereka yang menunjukkan ada indikasi sudah mengalami transformasi diri bisa bekerja dengan lebih baik, d.p. pekerja yang lainnya, dan berpeluang besar menjadi pegawai yang luar biasa.

Maka dari itu, ada baiknya saat kita memilih para wakil kita (di MPR, DPD, DPR, dan DPRD), juga saat kita memilih para pemimpin kita (Ketua RT/RW, Kepala Dusun, Kepala Desa, Bupati/Walikota, Gubernur, dan Presiden), atau saat memilih orang-orang yang akan kita percayai dan kita beri tanggung jawab yang lainnya, pilihlah orang-orang yang sudah mempunyai ciri-ciri transformasi diri, atau aktualisasi diri seperti tersebut di atas. Pilihan kita sebaiknya bukan didasarkan pada latar belakang yang kita sukai, misalnya: militer, profesor, artis, mantan preman, atau yang lainnya, karena kesuksesan seorang pemimpin, tidak ditentukan oleh latar belakang mereka, tetapi ditentukan oleh apa yang akan mereka perbuat setelah mereka menduduki jabatan. Bila para wakil kita dan pemimpin kita banyak yang sudah mengalami transformasi diri, maka kemungkinan negara kita menjadi negara yang mementingkan kesejahteraan bersama atau mementingkan harkat hidup semua lapisan rakyat akan semakin cepat terwujud.

Sharing selanjutnya, bagi para pembaca yang berminat untuk memahami atau membicarakan lebih lanjut tentang transformasi diri dan aktualisasi diri, kami membuka diri untuk berbagi dan bekerjasama. Silakan kontak kami melalui telepon, email, atau sms/BBM/WA/Line, atau yang lainnya. Bila diperlukan, bisa janjian untuk bertemu, entah hanya sekedar omong-omong, atau untuk keperluan yang lainnya. Silakan.

Terima kasih.

Salam,
Dwiatmo Kartiko
Perum Jatisawit Asri A1 No 7, Balecatur, Gamping, Sleman 55295.
Tlp 02742149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663
e-mail: bioaccess98@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
PIN BB: 7e4f506a; WA & LINE: 8812781400
-o0o-

Bacaan terkait:

Sudahkah Bpk/ Ibu/ Sdr Menjadi Magnet Sukses?
Ada God Spot di diri kita masing-masing
Jalan Sunan Kalijaga Mencari Guru Sejati
Karakter Baru untuk Hidup Sukses
Pelatihan Sukses vs Peran Tuhan
Menjadi Manusia Unggul
Cara Gampang Aktualisasi Diri – Bergaransi
14 Tanda Anda mempunyai Kecerdasan Emosional (EQ) bagus
Hidup Secara Spiritual – Hidup Dengan SQ Tinggi
Mukjizat itu ilmiah

-o0o-

Informasi tentang pengembangan SDM, dll., di sini.

—o0o—

About karuniasemesta

Kelompok Karunia Semesta (KKS) merupakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia. Dengan motto: "Saling berbagi membangun hidup bermartabat." Kelompok ini memberi pelayanan: konsultasi, mentoring, pendampingan & coaching/pelatihan. Kegiatan rutin yang dikerjakan antara lain memberi pelayanan sosial, konsultasi, pendampingan dan mentoring kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan untuk menyelesaikan permasalah sosial, ekonomi. pendidikan, kesehatan, dll. Di samping itu, KKS juga memberi coaching/pelatihan pengembangan sumber daya manusia, a.l. Pelatihan Shifting Character for Success, Menjadi Pemimpin yang Tangguh, Self Empower, Pelatihan Teamwork Berkinerja Prima, dan Pelatihan Soft-skills: inisiatif, inovasi, decision making, problem solving, manajemen waktu, pendelegasian, resolusi konflik, manajemen teamwork, PDCA/ PDSA, strategic planning, dll. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kantor Pusat: Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667, 08886829663 e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id. Kontak: Dwiatmo Kartiko Dwiatmo Kartiko lahir di Blora pada 30 Mei 1963. Masa kecil hingga menyelesaikan SMA dijalani di kota kecil di Jawa Tengah tersebut. Pada tahun 1986, menyelesaikan pendidikan S-1 Geografi di Univ. Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah lulus, sempat mengajar di Univ. Kristen Satya Wacana, Salatiga, selama 3 (tiga) semester, hingga pertengahan tahun 1988. Setelah itu, kegiatan sehari-harinya dihabiskan dengan menggeluti dunia LSM yang berfokus pada pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan lingkungan, baik di LSM lokal maupun LSM Internasional, mulai dari UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta, WALHI Yogyakarta, PELKESI dan diteruskan masuk menjadi staf PLAN Internasional Indonesia. Mulai tahun 2000, dunia usaha menjadi impian hidupnya, sambil masih terus terlibat di dalam dunia pemberdayaan SDM. Itulah sebabnya, sejak tahun 2006 pengembangan SDM menjadi fokus aktivitas sehari-harinya, dengan menjadi fasilitator pemberdayaan SDM secara individual dan kelompok, baik itu organisasi atau perusahaan. Saat ini bersama isteri dengan dua anak, tinggal di Perum Jatisawit Asri, Balecatur, Gamping, Sleman 55295. Bisa dikontak via Tlp 0274 2149528, Hp/sms 08157933667; 08886829663; e-mail: dkartiko@yahoo.com; tim_karunia@yahoo.co.id.
This entry was posted in Kontak dan kerjasama offline, Paper and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s